Sinopsis Goddess of Fire, Jung Yi Ep 5 ( Bagian 1 )

 Goddess of Fire Jung Yi, Sinopsis
Goddess of Fire Jung Yi episode 5 berawal dari Tae Do yang menyampaikan pada P Gwang Hee kalau Jung Yi tidak ingin pergi ke Bun Won. P Gwang Hee masih belum puas dengan apa yang di sampaikan oleh Tae Do jadi dia ingin memberitahu Jung Yi sendiri dan membujuknya agar mau  ke istana.
Goddess of Fire Jung Yi episode 5 ( bagian 1 )
“Aku harus menjalankan titah Raja. Aku yang akan membujuk Jeong.” Ucap P Hwang Hee.
Beralih pada Kang Chun yang memanggil anak buahnya, Ma Poong, “masalah ini harus berakhir hari ini. Bunuh dia. Hanya dengan kematian Eui Dam,. Aku baru bisa hidup”
Ma Poong, orang yang di tugaskan membunuh ibunya Jung Yi dulu, langsung melaksanakan perintah Kang Chun, dia langsung mendatangi rumah Eui Dam malam itu juga. 
Eul Dam sedang bersama Jung Yi, mereka sedang membakar tembikar yang baru mereka buat bersama. Jung Yi bertanya pada ayahnya, jika ada permintaan untuk pergi ke Bun Won, apa ayahnya akan pergi? Jung Yi menambahkan kalau sebenarnya dia takut, “cangkir, the, mangkuk, piring, semua perabot, yang berkaitan dengan hidup kita sungguh menakutkan. Aku tak mau. Aku tak akan pergi.”
“Jeong-ah”
“Kenapa ayah selalu menyuruhku untuk menjadi seorang pengrajin tembikar? Apa karena sudah berjanji dengan ibu?” Tanya Jung Yi. Karena ayahnya tak juga memberikan jawaban, Jung Yi pun memberi pilihan, Ayahnya lebih suka padanya apa pada ibunya?
Mendengar pertanyaan Jung Yi membuat Eul Dam tertawa. Jung Yi pun mengingatkan lagi kalau ayahnya pernah bilang, “dibandingkan janjinya dengan ibu, aku lebih penting.”
“jangan bilang seperti itu lagi,” ucap Eul Dam sambil tertawa.
“Tak mau tahu. Jika ayah ingin pergi ke Bun Won, pergilah sendiri. Aku tak akan pergi.” Balas Jung Yi kesal dan berjalan pergi. Dia tak berhenti walau ayahnya memanggil.
Di atas atap terlihat Ma Poong bersiap2 membunuh Eul Dam. Bertapa terkejutnya Eul Dam saat melihat Ma poong yang datang dengan tiba2 di depannya dengan membawa pedang.
Beralih ke Jung Yi yang sudah berjalan lumayan jauh dari tungku pembakaran. Jung Yi kesal karena ayahnya membiarkannya pergi begitu saja tanpa menghiburnya. Jung Yi melangkahkan lagi kakinya, namun langkahnya berhenti ketika mendengar suara yang mengatakan….
“Sebagai pengrajin terbaik di Joseon, alas an itu sudah cukup untuk kematianmu.”
Ma Poong sudah mengeluarkan pedangnya dan siap membunuh Eul Dam. Tiba2 terdengar teriakan Jung Yi, “JANGAAAAAAAN!”
Tak ingin Ma Poong menyakiti Jung Yi, Eul Dam pun langsung menahan Ma poong dengan menjatuhkannya. 
“Jeong-ah….. cepat lari…. Cepat!” teriak Eul Dam.
Namun dengan cepat Ma poong berhasil membalikkan posisi, ketika dia akan menusukkan pedangnya pada Eul Dam, Jung Yi mendekat dan memukulkan tembikar yang dia pegang pada kepala Ma poong. Kesempatan itu digunakan Eul Dam untuk melawan balik Ma Poong. 
Dengan mudah Ma Poong bisa mengalahkan Eul Dam dan menusuknya. Eul Dam pun sengaja memegang pedang Ma Poong dan menyuruh Jung Yi pergi, namun Jung Yi tak ingin pergi, bahkan dia dengan pasrah ingin menerima sabetan pedang dari Ma Poong. 
Namun Eul Dam tak membiarkan hal itu terjadi, dia melindungi Jung Yi dengan badannya sehingga dia yang menerima sabetan pedang itu. Eul Dam terjatuh tak berdaya.
Saat Ma Poong akan membunuh Jung Yi lagi, kali ini Tae Do yang menyelamatkannya. Tae Do dengan cepat melempar batu tepat ke tangan Ma Poong dan membuatnya tak jadi membunuh Jung Yi.
Melihat Tae Do dan P Gwang Hee datang, Ma Poong langsung lari. Namun mereka tak membiarkan Ma poong pergi begitu saja, mereka mengejar dan bertempur dengan Ma Poong. 
Kembali pada Jung Yi, yang meminta ayahnya membuka mata. Eul Dam masih mempunyai sedikit tenaga untuk meraih tangan Jung Yi. 
“Ayah, maaf.. aku salah…. Lain kali aku akan mendengarkanmu, tidak akan membuatmu khawatir lagi… dan menjadi pengrajin tembikar sesuai keinginan ayah,” ucap Jung Yi dengan terus menangis.
“Jeong…. Maafkan ayah karena meninggalkanmu sendirian.”
“Jangan pergi… jika aku sendiri, bagaimana aku hidup? Ayah… kau tak akan mati…. Kau akan tetap hidup kan?”
“Je…. Jeong-ah….” Itulah kata terakhir yang Eul dam ucapkan, setelah mengatakan itu dia menghembuskan nafas terakhir.
Jung Yi terdiam, dia tak bisa berkata apa-apa lagi.  Beralih ke Ma Poong yang dikeroyok oleh Tae Do dan P Gwang Hee. Mereka bisa mengalahkan Ma poong, saat mereka akan menebaskan pedang mereka ke Ma poong, mereka terkejut dengan teriakan Jung Yi, “Ayaaaaaah…… ayaaaaaah…. “
Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Ma Poong untuk lari. Tae Do langsung mengejarnya. Karena mendengar suara Jung Yi yang begitu histeris, membuat P Gwang Hee tidak ikut mengejar, dia lebih memilih mendatangi Jung Yi yang menangisi ayahnya. 
Tae Do terus mengejar Ma Poong, mereka pun bertarung. Tae Do berhasil melukai lengan kanan Ma Poong bagian atas. Walaupun begitu mereka bukanlah lawan yang imbang, Ma poong dengan mudah dapat mengalahkan Tae Do. Tapi karena Ma Poong hanya di perintahkan membunuh Eul Dam dan Jung Yi, jadi dia membiarkan Tae Do hidup. 
Kembali pada Jung Yi yang masih menangisi ayahnya. P Gwang Hee mendekatinya.
“Je…. Jeong-ah…”
“Yang Mulia. Ayah…. Ayah sangat aneh. Dia jelas-jelas masih memegang tanganku, masih mengenggamnya… AYAH BENAR-BENAR SANGAT ANEH, AYAH….” Teriak Jung Yi dan dia menangis dengan kencang. Sekali lagi, karena saking shocknya, Jung Yi pingsan lagi.
P Gwang Hee terus memanggilnya, berusaha membangunkan Jung Yi. Tepat di saat itu Tae Do datang. Tae Do langsung berlari dan mengambil Jung Yi, saking paniknya, dia tak perduli kalau dia sudah menyingkirkan P Gwang Hee yang sebelumnya memeluk Jung Yi. 
Ternyata Ma Poong di rumah Kang Chun hanyalah seorang pelayan rendahan. Mungkin itu strategi Kang Chun agar semua orang tak curiga kalau dia punya bodyguard. Kang Chun bertanya pada Ma Poong tentang tugas yang dia berikan. Ma pong menjawab kalau dia sudah berhasil membunuh Eul Dam.
“Yu Eul Dam, dalam satu gunung tidak boleh ada dua harimau. Selamat Tingga.” Ucap Kang Chun dalam hati. 
Para prajurit mendatangi tempat kejadian dan melakukan pemeriksaan, didapat hasil kalau semua tembikar yang berharga telah hilang, seperti sebelumnya juga ada rumah pengrajin tembikar yang kecurian. Karena itu di putuskan kalau orang yang masuk ke rumah Eul Dam dan membunuhnya adalah pencuri yang sama.
Kang Chun mendapat berita kalau Eul Dam meninggal P Gwang Hee, diapun  pura-pura terkejut dan prihatin. P Gwang Hee pun tak menaruh kecurigaan pada Kang Chun.
Keluar dari ruangan P Gwang Hee, Kang Chun sudah ditunggu oleh Penasehat Yi yang bertanya kebenaran Eul Dam sudah meninggal. Kang Chun mengiyakan, dan dia mengatakan kalau dia tahu dari P Gwang Hee. Penasehat Yi  pun tahu kalau kabar yang beredar, eul Dam mati karena dibunuh pencuri. Sekali lagi Kang Chun mengiyakan.
“Tentang pencuri yang sudah berlalu itu, rahasiakan dengan baik,” saran Penasehat Yi. Kang Chun pun tersenyum dan melihat ke sekeliling. “karena kematian Eul Dam…  kini bukan sekedar nama saja, kau telah menjadi pengrajin tembikar terhebat di Joseon.”
Penasehat Yi dapat menebak kalau dalang di balik kematian Eul Dam adalah Kang Chun. 
Jung Yi terkena demam tinggi, setelah semalaman akhirnya Jung Yi sadarkan diri. Tae Do yang menjaga dan merawat Jung Yi semalam sedikit lega melihat Jung Yi sudah sadar. 
Jung Yi langsung beranjak dari tidurnya dan memanggil ayahnya. Dia kembali ke rumahnya dan mencari2 Eul Dam. Jung Yi mencari kesemua penjuru rumah, dia beranggapan kalau ayahnya belum meninggal.
Tae Do menghampiri Jung Yi. Melihat Jung Yi yang memintanya membantu mencarikan ayahnya, Tae Do terdiam tak bisa bekata apa-apa.
Tiba-tiba terdengar suara Eul Dam, Jung Yi menoleh ke belakang dan bayangan akan malam itu kembali teringat, disaat Eul Dam menghembuskan nafas terakhirnya. 
Dan sekarang yang terlihat hanyalah tanah yang masih ada bekas darah Eul Dam. Melihat itu, Jung Yi langsung ambruk. Dia menyadari kalau ayahnya sudah tak ada.
Jung Yi terdiam, dia mengingat kembali masa-masa indahnya bersama Eul Dam. Tae Do masih dengan setia berada disampingnya.
“Mengingat ayah yang telah meninggal… juga mengingat… dia telah meninggalkanku sendirian. Ayah tetap ada disini, kak. Di dalam ruangan, di dalam rumah, juga di tempat tungku. Juga disini, di meja ini. Kemana aku pergi, ayah ada disana.”
Tae Do duduk di bawah dan menggenggam tangan Jung Yi, “itu benar Jeong-ah. Paman akan selalu di sampingmu. Selalu melihatmu…..”
“Tapi kak…. Ayah sangat aneh. Nyata2 disampingku…  melihatku menangis, tapi tidak menghiburku. Melihatku terjatuh, juga tidak mengulurkan tangannya. Aku sedih seperti ini, dia juga tidak datang menghampiriku, kakak.” Ucap Jung Yi dengan menangis. “jika aku ingin melihat ayah…  harus aku ke tempatnya? Ayah sudah tiada…  dia tidak akan kembali. Haruskah aku ikut menemaninya kak?”
“Jangan berkata seperi itu.” Tae Do-pun mengajak Jung Yi jalan2 mencari udara segar.
Jung Yi menolak. Tae Do mengatakan kalau dia akan mengajak Jung Yi menemui Hwa Ryung. Mendengar nama Hwa Ryung, Jung Yi berubah pikiran.
Di tempat Hwa Ryung bekerja, sedang kedatangan Kang chun yang menemui wanita pengoleksi keramik. Wanita pengkoleksi keramik itu sengaja menggunakan cangkir buatan Eul Dam untuk menyugukan teh kepada Kang Chun. Cangkir itu dia dapat sebagai hadiah, karena wanita itu mau menjaga Hwa Ryung. 
Wanita itu kemudian bertanya kenapa Eul Dam dulu bisa meninggalkan Bun Won. Kang Chun menjelaskan kalau Eul Dam sebenarnya  bukan pergi karena kemauannya sendiri, tapi semua itu karena dia tertangkap karena melakukan pengkhianatan. Wanita pengkoleksi dan Hwa Ryung terkejut mendengarnya. Ternyata tepat disaat itu, Jung Yi sudah sampai dan mendengar apa yang dikatakan Kang Chun tentang ayahnya. 
“Tidak seperti itu.” ucap Jung Yi yang langsung nyelonong masuk. “Pembohong, ayahku bukan orang yang akan melakukan pengkhianatan.”
Kang Chun menyarankan Jung Yi untuk pura2 tak mendengarnya. Sekali lagi Jung yi berkata kalau ayahnya bukan orang seperti itu. Dengan lantang Jung Yi meminta Kang Chun meminta maaf karena mengatakan hal yang tidak benar. 
“kau pikir bisa menyembunyikan langit dengan satu tangan? Sebagai putrinya tentu kau harus seperti itu. meneruskan pembicaraan ini, berarti tidak menghormati almarhum. Hentikan sebelum berkembang jauh.”
Jung Yi terdiam. Kang Chun pun pamit pulang pada wanita pengkoleksi keramik. Saat Kang Chun akan beranjak pergi, Jung Yi menjegatnya, “masih punya rasa hormat pada almarhum? Sebelum minta maaf, Anda tidak boleh pergi,” ucap Jung Yi sambil merentangkan tangannya untuk menghalangi jalan Kang Chun. 
“Aku akan mengingatkan Tuan dengan jelas, sebelumnya saat ke rumah kami…  menghina ayahku, dengan berkata dia tak akan pernah bisa menikah. Waktu itu aku bisa membiarkannya karena ayah menahanku, Tapi….  hari ini tidak akan seperti itu lagi, penghinaan terhadap ayahku…  cepat minta maaf.”
“tidak memandang orang lain, bersikap kasar dan sombong…  benar-benar mirip ayahmu.” Balas Kang Chun.
(Yups! Memang sifat Jung Yi mirip ayahnya, ayahnya yang sebenarnya yaitu Kang Chun. Karena kalau Eul Dam mana ada sifat sombongnya, karakter Eul Dam itu rendah hati dan penyabar banget)
“HEI TUAN!!!”
Hwa Ryung berusaha menghentikan Jung Yi. Dia menjelaskan pada Jung Yi kalau Kang Chun adalah pengrajin tembikar terbaik di Joseon.  Jung Yi langsung meralat kalau pengrajin tembikar terbaik di Joseon bukan Kang Chun melainkan Eul Dam. Jung Yi dan Kang Chun sama2 saling menatap.
Hwa Ryung berniat akan mengajak Jung Yi keluar namun Tae Do menghalanginya. Tae Do malah mengajak Hwa Ryung yang keluar.
Perseteruan anak dan ayah sebenarnya dimulai lagi. Kang Chun mengatakan kejahatan yang sudah Eul Dam lakukan, “pada tahun 1575, dia mencoba meracuni Selir Gong Bin dengan bahan glasir. Itu sebabnya dia diusir dari Bun Won.”
Jung Yi terkejut dan tak percaya mendengar semua itu. Kang Chun melanjutkan, karena keberuntungan, Eul Dam dimaafkan, “tapi membahayakan orang lain, apapun alasannya tidak bisa disebut pengrajin terbaik.”
Kang Chun kemudian mengambil cangkir tehnya tadi, dia memperlihatkannya pada Jung Yi dan kemudian Kang Chun menjatuhkannya. Jung Yi terperanjat melihat semua itu. Jung Yi berusaha menahan emosinya.
Kang Chun pun meminta wanita pengkoleksi tembikar untuk mencari tempat yang tenang untuk bertemu. Saat akan keluar, Kang Chun sengaja menginjak serpihan tembikar buatan Eul Dam. Itu benar2 membuat Jung Yi emosi. 
“Jika aku bisa menjadi pengrajin… Apa saat itu Anda akan minta maaf?” ucap jung Yi dengan menahan amarahnya. “dengan mewarisi bakat ayahku, aku akan menjadi pengarjin tembikar terbaik di Joseon. Saat itu mau tidak mau Anda harus minta maaf.”
Kang Chun tertawa mengejek, “Kau? Benar2 anak yang angkuh.” Kang Chun keluar dengan terus tertawa. Sedangkan Jung Yi terus berusaha mengatur nafasnya, dia sangat amat emosi menghadapi Kang Chun.
Jung Yi kemudian bertanya pada wanita pengkoleksi tembikar, apa yang harus dilakukan untuk menjadi pengrajin tembikar tebaik di Joseon.  Wanita itupun menjawab kalau Jung Yi harus bergabung dengan Bun Won, karena menjadi pengrajin tembikar Bun Won, barulah bisa disebut dengan pengrajin. Jung Yipun bertanya lagi, apa syarat agar bisa masuk Bun Won. Wanita pengkoleksi menjawab pesimis, Jung Yi bisa masuk Bun Won, karena orang yang baru saja di marahin Jung Yi adalah Rang Chong di Bun Won. Jung Yi terperanjat.
Wanita itupun menawari Jung Yi untuk menjadi pedagang seperti dirinya, selain itu dengan bersama Hwa Ryung, Jung Yi bisa melepas kesedihannya. 
“Tidak, saya sudah bersumpah atas nama ayah, bagaimanapun caranya… saya haruss menjadi pengrajin tembikar.”
Dalam perjalanan pulang Kang Chun teringat pada janji Jung Yi yang akan menjadi pengrajin tembikar terbaik di Joseon. 
Jung Yi ditemani  Tae Do mengunjungi makam Eul Dam. Jung Yi juga membawakan seikat bunga liar untuk Eul Dam. Setelah memberi penghormatan, Jung Yi mengatakan kalau dia tidak akan percaya pada apa yangorang lain katakan tentang ayahnya. Karena dialah yang paling tahu ayahnya itu orang seperti apa. Sekali lagi Jung Yi mengungkapkan janjinya untuk menjadi pengrajin tembikar terbaik di Joseon. 
Dalam perjalanan pulang Jung Yi mengatakan pada Tae Do kalau dia harus pergi daru rumah kalau tidak, dia tidak akan bisa menjadi seorang pengrajin tembikar. Rumah itu akan selalu mengingatkan dia pada ayahnya, dan itu akan membuat dia sedih dan terus menangis. 
Tae Do tidak setuju dengan ide Jung Yi, karena ide Jung Yi adalah Tae Do diminta mengatakan kepada semua orang kalau Jung Yi sudah mati. Jung Yi berjanji itu hanya untuk sementara waktu, hanya 5 tahun. 
Jung Yi mengancam benar2 akan terjun ke sungai jika Tae Do tak mau membantunya. Jung Yi lalu mendur selangkah demi selangkah, tak ingin terjadi apa2 pada Jung Yi, Tae Do pun menyerah, dia langsung menangkap Jung Yi dan memeluknya. Tae Do berjanji akan membantu Jung Yi. 
Jung Yi lalu mengatakan kalau dia akan pergi mencari guru ayahnya, Sa Seung. Dia yakin Sa Seung akan menjaga dirinya dan mengajarinya membuat tembikar. Tae Do bertanya dimana tempat itu? Namun Jung Yi tak ingin memberitahukannya, karena dia yakin Tae Do akan mencarinya. 
“hanya 5 tahun… hanya 5 tahun kita berpisah. Setelah 5 tahun, kita bertemu lagi disini. Ya?”
Dengan berat hati Tae Do menyetujuinya. Jung Yi kemudian melempar sepatunya ke sungai, dia juga mengingatkan Tae Do untuk mengatakan pada semua orang kalau dia lompat ke sungai dan langsung meninggal. 
“Tapi…. kau harus berjanji…. setelah 5 tahun, kau harus kembali. Saat kita bertemu kembali, kau tak akan pergi lagi.” pinta Tae Do.
“Mmmm…. Aku berjanji.” Ucap Jung Yi sambil mengaitkan kelingkingnya dengan kelingking Tae Do. “Janji kakak.”
Tae Do terlihat sekali tak rela ditinggal pergi Jung Yi. Melihat Jung Yi tak lagi memakai sepatu, Tae Do pun memberikan sepatunya pada Jung Yi, karena sepatu miliknya terlalu besar untuk Jung Yi, Tae Do pun mengakalinya dengan mengikat sepatu  itu. 
Tae Do meminta maaf pada Jung Yi karena dia harus membiarkan Jung Yi pergi dengan cara seperti itu, Jung Yi jadi tak enak.
“mengingat kakak yang selalu ada, betapa senangnya aku.” Ucap Jung Yi. 
Jung Yi pergi ke tempat kakek Sa Seung sendirian, dia melewati jalan yang pernah dia lewati bersama ayahnya. Tiba2 dia mendengar suara orang naik kuda dan ternyata itu adalah suara P Gwang Hee bersama pengawalnya. Jung Yi langsung bersembunyi. Dari jauh, Jung Yi memberi hormat pada p Gwang Hee.
Tae Do membawa pulang sepatu Jung Yi yang basah, langkahnya terhenti saat P Gwang Hee memanggilnya. 
Tae Do bersama P Gwang Hee dan pengawal2nya berusaha mencari Jung Yi di seluruh sungai. Namun yang mereka temukan hanya pasangan sepatu Jung Yi yang memang sengaja Jung Yi lempar ke dalam sungai. P Gwang Hee benar2 shock dan Tae Do hanya diam saja. P Gwang Hee menyalahkan Tae Do yang tak bisa menjaga Jung Yi dengan baik. 
P Gwang Hee benar2 merasa kehilangan Jung Yi, sampai2 dia menyimpan sepatu Jung Yi, “Jeong-ah… kaulah orang yang berani menyakitiku. Rakyat jelata yang paling terukir di hati.”
Di rumah Jung Yi, Tae Do juga tak kalah kehilangan, walaupun dia tahu Jung Yi hanya pergi, tetap saja dia merasa kehilangan juga. Dengan memegang sepatu milik Jung Yi yang satunya, dalam hati tae Do berkata, “Jeong-ah…. alasanku membiarkanmu pergi, karena aku takutkehilanganmu. Orang itu jelas2 bukan perampok, dia pembunuh. Sementara waktu menyamarkan kematianmu, demi melindungimu dari orang itu. Aku harus lebih kuat. Jeong-ah…”
Bagikan ke teman: