Sinopsis Goddess of Fire, Jung Yi Ep 3 ( bagian 1 )

 Goddess of Fire Jung Yi, Sinopsis
Sinopsis Goddess of Fire, Jung Yi episode 3 berawal dari scene dimana P Imhae masuk ke ruang persembahan dengan kondisi mabuk. Karena rasa kesalnya pada P Gwang Hee, yang selalu mendapatkan perhatian lebih dari Raja, P Imhae tanpa ragu-ragu mengambil guci persembahan itu dan kemudian menjatuhkannya.
P Gwang Hee shock dan langsung memungutinya. Dengan wajah terkejut pula, P Imhae berkata, “kenapa kau tak menangkapnya.”
P Gwang Hee benar2 tak percaya pada apa yang dikatakan P Imhae yang tak ♏ªϋ disalahkan, kakaknya itu malah menyalahkan P Gwang Hee karena tak menangkapnya.
Oh my god…. Ada yah orang kayak gitu… Kalo orang kayak gitu nongol di depanku, pengen ku tonjok mukanya…. ƗƗHɑɑ:D‎​ƗƗɑɑ˘•˘‎​ƗƗɑɑ:D
Dengan kesal P Gwang Hee berkata kalau semua itu memang salahnya, salahnya karena sudah membiarkan orang mabuk berjalan di sekitar kuil persembahan.
P Gwang Hee mengumpulkan pecahan guci dan membawanya pergi. P Imhae mengira P Gwang Hee akan melaporkannya pada ayah mereka, jadi dia terus mengejar-ngejar P Gwang Hee dan memintanya untuk tidak mengadukannya pada ayah mereka.

P Imhae mengingatkan P Gwang Hee kalau ayah mereka selalu memperlakukan guci itu sama berharganya dengan nyawanya, “ayah pasti akan memberi hukuman berat, bagaimana bisa kau melaporkannya?”
P Gwang Hee diam sejenak. P Imhae terus merengek, “ªкŭ ßềLū♏ sepenuhnya sadar, bagaimana ªкŭ bisa menghadap ayah dengan keadaan seperti ini.”
P Gwang Hee bertanya, kalau memang P Gwang Hee sangat takut pada ayahnya, “kenapa kau melakukan hal tadi?”
Tak ♏ªϋ di salahkan dan terus diceramahi oleh P Gwang Hee, P Imhae pun menantang P Gwang Hee, siapa nanti yang akan di salahkan oleh ayah mereka. (Euuuum…. Punya rencana apa lagi dia….)

Di depan kediaman Raja, P Gwang Hee terlihat sedikit ragu pada apa yang akan dia laporkan. Sedangkan P Imhae sedang membenahi dirinya, agar tak ketahuan kalau dia habis mabuk di depan ayahnya nanti.
Betapa senangnya P Imhae saat kasim keluar dan mengatakan kalau ayah mereka sedang bersama Ratu In Bin. Dia langsung mengajak P Gwang Hee pergi. ßềLū♏ sampai mereka melangkahkan kaki kedua mereka, terdengar suara seseorang yg menyuruh mereka masuk.
Di dalam, Raja sedang bersama Ratu In Bin dan P. Sin Song. Dengan perhatiannya, P Sin Song sedang memijat ayahandanya. Karena kakak2nya datang menemui ayahnya, P Sin Song pun undur diri pulang.

P Gwang Hee ragu mengatakan apa yang terjadi, terlebih disana ada Ratu In Bin. Merasa dirinya menjadi penghalang P Gwang Hee mengatakan semuanya, Rati In Bin pun hendak pergi, namun di cegah oleh Raja. Raja ingin P Gwang Hee mengatakan apa yang terjadi di depan Ratu In Bin juga.
P Gwang Hee akhirnya mulai mengatakan tentang ritual persembahan, P Imhae yang ada di sampingnya mulai ketakutan.

“Ritual kali ini….” P Gwang Hee berniat mengambil pecahan guci, namun dia melihat kembali ke arah Ratu In Bin. Dengan terbata2 P Gwang Hee meneruskan kata-katanya, “perabotan tembikar Eul Dam sudah datang.”
P Imhae terkejut mendengar apa yang dikatakan adiknya itu, dia tak menyangka adiknya ♏ªϋ menutupi kesalahannya. ( Tapi ku rasa bukan itu alasan P Gwang Hee tak mengatakan yg sebenarnya, di lihat dari pandangnnya pada Ratu In Bin sepertinya sudah berkibar bendera perang antara mereka berdua. Dan dia tak ingin, Ratu In bin tahu semua tentang dirinya berikut kesalahan yang sudah dia perbuat.

Raja kesal, karena kedua anaknya itu datang malam2 menemui dia hanya untuk mengatakan hal2 yg tak penting.
Tak ingin membuat ayahnya tahu kalau dia sedang mabuk, P Imhae langsung mengajak P Gwang HEe keluar.

Di luar, P Gwang Hee menyesal karena tak mengatakan yang sebenarnya. P Imhae dengan sombongnya mengatakan kalau dia akan membantu P Gwang Hee menyelesaikan masalahnya itu. Namun dengan tegas, P Gwang Hee menjawab “tak perlu” dia ingin menyelesaikan masalah itu sendirian.

Ratu In Bin memanggil penasehat istana, dia menangatakan tentang kedatangan P Imhae dan P Gwang Hee di kediaman raja. Ratu In Bin dapat menebak kalau ada suatu hal yang terjadi pada ritual persembangan, dan dia menyuruh Penasehat Istana untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Seperti pesan berantai, Penasehat Istana itupun langsung menemui Kang Chun dan menyuruhnnya mencari tahu semuanya.

Penasaran pada apa yang sebenarnya terjadi, Kang Chun langsung pergi ke ruang persembahan, dan disana dia bertemu dengan anaknya, Yook Do yang sedang serius memperhatikan tembikar karya Eul Dam. Kang Chun pun menyuruh Yook Do keluar. Dia mengambil satu piring buatan Eul Dam, Kang Chun berniat menjatuhkannya, namun niatnya terhenti saat dia melihat guci itu tak ada di tempatnya.

P. Gwang Hee menemui pengkoleksi keramik antik. wanita itu biasa membeli  tembikar langsung dari Kang Chun dan juga dari Jong Soo. Tanpa banyak kata P Gwang Hee menyampaikan maksudnya datang menemui wanita itu. Dia meletakkan gelas ke dalam sebuah sapu tangan dan kemudian menghancurkannya.
Wanita pengkoleksi tembikar itu terkecut, begitu juga Hwa Ryung yang ada disana juga terkejut. (Hwa Ryung ikut dengan wanita itu sebagai pengganti hutang ayahnya pada wanita itu).
Wanita itu berkata kalau untuk masalah seperti itu, seharusnya P Gwang Hee mencari pengrajin tembikar di Bun Won. P Gwang Hee menjawab kalau dia tak bisa mencari pengrajin tembikar itu di Bun Won,”kudengar disini sangat aktif menjual tembikar bagus. kau yang melakukan atau bukan”
“Disini menjual barang, bukan menjual orang,” jawab wanita itu.
P Gwang Hee membujuknya dengan mengatakan kalau dia akan membayar banyak, jika wanita itu mau memberitahunya. Namun wanita itu tidak bisa membantu dan meminta pangeran pulang.

P Gwang Hee pulang dengan rasa putus asa. Hwa Ryung mengejarnya dan mengatakan kalau sebelumnya mereka pernah bertemu di restoran saat itu. P Gwang Hee dapat mengingatnya. Hwa Ryung bertanya lagi apa benar P Gwang Hee sedang mencari seseorang yang bisa membetulkan tembikar pecah? P Gwang Hee mengangguk.
“Carilah Jeong Yi.”
“Jeong Yi”
“Ya. orang yang bisa memperbaiki tembikar pecah,  guru saja tak mengetahuinya.”
“Siapa dia?”
“Dia putri guru Eul Dam”
“Eul Dam punya seorang putri?”
“Bukannya Anda pernah melihatnya di gunung bersama kak Tae Do?”
Mendengar itu, P Gwang Hee terkejut,”maksudmu, anak yang waktu itu di sekitar gunung bernama Jeong Yi?”

Beralih pada Jung Yi dan Eul Dam. Eul Dam sedang bersiap2 akan pergi, dia ingin menemui  ayah Hwa Ryung. Eul Dam berpesan pada Jung Yi untuk menjaga rumah baik2. Tentu saja pada ayahnya Jung Yi mengatakan kalau dia tak akan meninggalkan rumah.

Setelah ayahnya pergi, Jung Yi langsung mengganti sepatunya dan pergi. Yups! dia pasti akan menemui Tae Do yang sudah berada di hutan. Tae Do sedang berlatih memanah, kemampuan memanah tae Do sangat bagus dan tepat sasaran.

Melihat Jung Yi datang, Tae Do dapat menebak kalau Jung Yi pergi dari rumah tanpa sepengetahuan ayahnya. Jung Yi membenarkan karena ayahnya sekarang sedang ke rumah Hwa Ryung. Mendengar nama Hwa Ryung, Tae Do sedikit terkejut sampai2 dia tak jadi memanahkan anak panahnya itu.

Jung Yi meminta Tae Do mengajarinya menunggang kuda. Jung Yi menaiki kuda itu dengan aman, kuda itu pun masih diam dan menurut. Namun saat Jung Yi menarik pelana kudanya, kuda itu menjadi tak terkendali. Tae Do berusaha menolong namun tak berhasil.

Kuda itupun melempar Jung Yi. Jung Yi melayaaang…. dan melayaaang…. dan hup.. Jung Yi tidak jatuh ke tanah, dia di tangkap seseorang. Siapa orang itu…. orang itu adalah P Gwang Hee.

“Yang Mulia….” ucap Jung Yi terkejut saat mengetahui siapa orang yang menolongnya. Jung Yi langsung meronta ingin melepaskan diri, namun itu malah membuat P Gwang Hee kehilangan keseimbangan, dan mereka pun sama-sama terjatuh.
“setiap kali bertemu dengan mu selalu begini,” keluh P Gwang Hee yang kemudian menyadari kalau pecahan guci itu tak ada lagi bersamanya.

Jung Yi melihat kantung yang berisi pecahan guci itu di tanah dan langsung memungutnya. menyadari kalau didalamnya adalah sebuah tembikar yang sudah pecah, JUng Yi langsung merasa bersalah. Dia mengira kalau dia lah yang sudah memecahkan guci itu.

Beralih pada Eul Dam yang sudah bertemu dengan Jong Soo. Dia menyalahkan Jong Soo karena sudah menggunakan Hwa Ryung sebagai solusi hutangnya. Jong Soo tak ingin membahasnya, karena diapun sebenarnya tak tega pada anaknya.
Jong Soo kemudian mengubah topik pembicaraan. Dia tahu kalau Raja sangat menyukai hasil tembikar buatan Eul Dam, “mungkin saja suatu hari nanti, kau akan menjadi Rang Chong.” tambahnya.
“omong kosong apa ini. jangan bicara sembarangan, pikirkan solusi membawa Hwa Ryung kembali.” mendengar kata2 Eul Dam, Jong Soo hanya menghela nafas.

Kembali pada Jung Yi, dimana sekarang dia dan Tae Do tengah berlutut di hadapan P Gwang Hee. Namun sayang walaupun mereka berlutut P Gwang Hee tetap ingin bertemu dengan Eul Dam. mendengar kata2 P Gwang Hee itu membuat Jung Yi salah paham. Dia mengira P Gwang Hee akan menghukum ayahnya juga atas apa yang sudah dia lakukan pada Pangeran saat di hutan.
“Yang Mulia, ayahku tidak bersalah. jika mau bunuh saja aku. Mau menjadikanku budak juga boleh. mohon biarkan ayahku.”
“Jangan Yang Mulia. Hari itu digunung, hambalah yang membiarkan Jeong melarikan diri. jadi hukum saja hamba.” potong Tae Do.

P Gwang Hee kesal karena sebenarnya dia ingin menemui Eul Dam bukan karena masalah itu, namun dia tak bisa mengatakan yang sebenarnya pada Tae Do maupun Jung Yi, “sebenarnya kapan Eul Dam kembali?”
Jung Yi terpancing emosi, “Anda keterlaluan. hamba sudah bilang, hamba yang akan menerima hukumannya. Kenapa Anda masih mengincar ayahku?”.
P Gwang Hee bingung dan tak mengerti pada apa yang Jung Yi katakan, “memangnya kapan aku pernah bilang…..? baiklah, menghukummu saja cukup kan?” ucap P Gwang Hee akhirnya.

Mendengar itu JUng Yi sangat senang dan berterima kasih. P Gwang Hee tersenyum melihat tingkah JUng Yi.
“Siap menerima hukuman?” tanya P GWang Hee sedikit menyegak.

“Ya, Yang Mulia. Tentu saja. Hamba melakukan kejahatan, mana mungkin dibiarkan bebas? telah berani mencubit lengan Yang Mulia, masih berbohong ingin memotong lengan Anda. Tidak mempercayai anda sebagai pangeran. juga berkata kasar. bukan hanya itu…. hanya karena anda menggigil…. hamba menggunakan pakaian hamba untuk menutupi tubuh berharga  Anda.”

“Cukup…. Hei, itu…. itu… hentikan! aku masih ingat dengan jelas, jadi tidak perlu diingatkan lagi.”
hahhahhaha….. P Gwang Hee malu, apalagi disana ada TAe Do yang mendengarnya juga.
P Gwang Hee benar2 akan menghukum Jung Yi, dia menyuruh Jung Yi menutup matanya. P Gwang Hee berjalan mendekati Jung Yi, merasa kalau dia didekati, Jung Yi berjalan mundur. p GWang Hee menggertak, dan Jung Yi tak lagi berjalan mundur.

P Gwang Hee menjulurkan tangannya ke kening Jung Yi, dengan keras dia menyentil kening Jung Yi. JUng Yi pun kesakitan dan membuka matanya.
“masih dua kali lagi, cepat tutup matamu!!!” perintah P Gwang hee.
Dengan bingung Jung Yi bertanya apa ini adalah hukumannya lagi. P Gwang Hee bertanya apa Jung Yi tak rela dihukum seperti itu? Dengan cepat Jung Yi menjawab tentu saja dia rela dan siap menerimanya lagi. Jung Yi langsung menutup matanya lagi.

Dia terpejam menunggu sentilan dari P Gwang Hee, namun tak juga dia dapatkan. Akhirnya dia membuka mata dan yang dia lihat hanya Tae Do, P Gwang Hee sudah tak ada lagi disana. Jung Yi bingung dan bertanya2, “apa hanya ini?” ucapanya sambil memegang keningnya.
P Gwang Hee dalam perjalanan pulang, sambil memegangi kantong guci pecah itu, dia teringat pada kata2 Hwa Ryung yang menyuruhnya menemui Jung Yi.

“Lupakanlah. gadis tanpa pengalaman seperti itu tahu apa?” ucap P Gwang Hee pada dirinya sendiri.
“Yang Mulia, tunggu sebentar.” terdengar suara Jung Yi memanggilnya.
Jung Yi mengatakan kalau dia tak bisa berhenti khawatir. Dengan bercanda P Gwang Hee bertanya apa Jung Yi ingin mendapat sentilan yang kedua.
“Bukan itu, aku akan memperbaiki serpihan tembikar yang pecah.”
“Apa?”

“Karena hamba yang memecahkannya, hamba akan memperbaikinya. seperti kata pepatah, ‘putri ayah sudahh cukup’. P gwang Hee pun bertanya apa Jung Yi tahu benda apa itu yang ada di dalam kantung merah.
“Itu pasti tembikar yang sangat berharga,” jawab Jung Yi. P Gwang Hee mengatakan kalau ini bukan benda yang bisa diperbaiki oleh gadis seperti Jung Yi. Jung Yi meyakinkan pangeran kalau dia sangat pintar memperbaiki tembikar.

P Gwang Hee tak memberikannya juga, dia bahkan mengatakan “memperbaiki ini, berarti kau menjadi pengkhianat.”

Jung Yi yang tak tahu apa2, tak percaya kalau dengan hanya memperbaiki sebuah tembikar bisa di tuduh melakukan pengkhianatan. Dia malah merebut tembikar itu dari P Gwang Hee. Karena tak bisa mengalahkan  keras kepalanya Jung Yi, akhirnya P Gwang Hee memberi waktu pada Jung Yi untuk memperbaiki tembikar itu selama 5 hari.

Di istana, P Imhae mencari2 P Gwang Hee sampai2 kekesalannya dia lampiaskan kepada para penjaga. Salah satu penjaga mengatakan kalau mereka hanya diperintah untuk mengawasi P Gwang Hee agar tidak menemui Raja. Karena P Gwang Hee sedang berjalan keluar, jadi itu tak akan jdi masalah.

Dijawab seperti itu, P Imhae tambah marah, dia kesal kenapa mereka tak membangunkan dia ataupun mengikuti kemana P Gwang Hee pergi. P Imhae langsung menyuruh para penjaga untuk mencari tahu dimana keberadaan P Gwang Hee sekarang.
P Imhae pergi menemui Kang Chun. Dia marah sampai2 memukul meja saat Kang Chun bertanya tentang guci Raja Tae Jo.

Dasar memang P Imhae, dia tak ♏ªϋ disalahkan. Diapun menuduh P Gwang Hee yang memejahkannya, selain itu dia juga mnyalahkan Kang Chun yang jadi akar permasalahannya. P Imhae pun menyuruh Kang Chun memperbaikinya.

Namun jelas saja Kang Chun menolaknya, “Yang Mulia, apa anda tahu guci Raja Tae Jo benda berharga seperti apa? Memecahkannya berarti pengkhianatan. Memperbaikinya sama juga pengkhianatan. Hamba tak mengerti kenapa menjadikan hamba pengkianat?” Tiba2 Kang Chun diam sejenak. “Yang Mulia….. Ini adalah peluang.”

P Imhae tak mengerti pada apa yang Kang Chun katakan. Kang Chun kemudian bertanya pecahan guci itu sekarang pada siapa? Tentu saja P Imhae menjawab kalau pecahan guci itu sekarang di tangan P Gwang Hee.

Kang Chun lalu berkata, karena sampai sekarang P Gwang Hee ßềLū♏ membawa pecahan itu ke Bun Won, “kalau begitu, siapa lagi yang dia cari?” Tanya Kang Chun.

Scene langsung beralih pada Jung Yi, yang sedang berusaha menempel pecahan guci itu menjadi satu, dan dengan setianya Tae Do membantunya.

Balik lagi ke P Imhae yang menjawab pertanyaan Kang Chun, “Eul Dam”.
Kang Chun mengiyakan, namun sayang P Imhae ßềLū♏ bisa mengerti kenapa hal seperti itu bisa di katakan sebagai peluang.
“Hari persembahan leluhur akan dihadiri para pejabat sipil dan militer. Jika saat itu menuduh P Gwang Hee yang memecahkannya dan yang memperbaikinya adalah Eul Dam……”
ßềLū♏ sempat Kang Chun menghabiskan perkataannya, P Imhae langsung memotong, “tidak boleh… Tidak boleh terjadi. Jika Gwang Hee…. “
“Peluang yang bagus dengan sekali gerak, menyingkirkan P Gwang Hee dan Eul Dam. Anda ingin pengangkatan kan?” Hasut Kang Chun.
“Tapi Gwang Hee adalah adikku…..” Ucap P Imhae.

“Dan juga lawan dalam memperebutkan posisi Putra Mahkota.” hasut Kang Chun lagi, dan kali ini P Imhae setuju dengan rencana Eul Dam karena diiming2i posisi Putra Mahkota.
Yah di pangeran satu…. Sifatnya kayak bukan seorang pangeran…. Licik bener… Kepeduliannya sama sodara tipis banget….

Yook Do sedang menata perabotan persembahan. Betapa terkejutnya dia saat melihat guci Raja Tae Jo tak ada di tempatnya. Dia langsung celingak celingung nyari keberadaan guci itu, dan tepat di bawah meja dia hanya menemukan pecahan guci tersebut.

Di halaman rumahnya, Jung yi mencari pecahan guci yang tak ada di kantung merah. Dan Tae Do masih dengan setia dan sabar menemani dan membantu Jung Yi.
Euuuuum…. Jung Yi lagi nyari pecahan guci yang lagi dipegang sama kakak sebapaknya.

Yook Do menemui ayahnya dan mengatakan kalau dia menemukan pecahan guci Raja Tae Jo. Yook Do berpendapat kalau mereka harus melaporkannya pada P Gwang Hee.
Tanpa ragu, Kang Chun mengatakan kalau P Gwang Hee sendrilah yang sudah memecahkannya. Yook Do terkejut mengetahui itu semua.
“Kalau itu adalah P Gwang Hee, bukankah ini adalah malapetaka?”
Kang Chun mengatakan kalau sekarang pasti P Gwang Hee sedang berusaha mencari seseorang yang bisa memperbaikinya.
Yook Do berniat akan mengambil pecahan itu kembali namun di cegah oleh Kang Chun. Yook Do ingin membantu P Gwang Hee memperbaiki guci itu, Kang Chunpun mengingatkan Yook Do, apa dia tahu kalau dia bisa menjadi seorang pengkhianat?
“ªкŭ tahu, tapi ªкŭ tak bisa membiarkan Pangeran sendirian yang bertanggung jawab.”
Kang Chun menjawab, kalau P Gwang Hee tidak akan meminta bantuan Yook Do, dia lebih memilih mencari orang lain. Yook Do berpendapat, kalau tak ada satu serpihan itu, maka tidak akan bisa mengembalikan guci itu seperti semula.
Kang Chun kemudian bertanya, “bagaimana perasaanmu, jika Eul Dam yang kau sanjungi itu yang melakukannya.?”

Terlihat sekali ekspresi kecewa pada Yook Do. Dan itu mrmbuat Kang Chun bertanya lagi, “apa karena tak mencarimu, kau jadi merasa sedih?”
Yook Do hanya diam saja, dia seperti org kebingungan.

Jung Yi mencoba merekatkan serpihan guci2 itu dengan serbuk tawas.

Eul Dam datang dan dia sangat terkejut pada apa yang jUng Yi lakukan. Eul Dam tahu kalau itu adalah guci Raja Tae Jo. Eul Dam bertanya apa yang terjadi dan apa itu, menunjuk pada guci.
“Yang Mulia yang membawanya dan ªкŭ sudah memecahkannya, ” Jawab Jung Yi polos.

“Apaaaa…… Apaaa kau bilang,”ucap Eul Dam terbata2, sampai2 dia terjatuh, saking lemas dan shock nya. Sekali lagi Eul Dam bertanya apa yang dikatakan Jung Yi memang benar, tentang memecahkannya dan dia juga bertanya apa Pangeran lah yang meminta jUng Yi membenarinta.
Jujur Jung Yi menjawab, kalau sebenarnya Pangeran menolak namun jung Yi merebutnya. 
“Dia bilang menyatukannya akan menjadi pengkhianat. Hanya menyatukannya bagaimana bisa dianggap pengkhianat?”

Eul Dam langsung berdiri dan berkata tegas pada Jung Yi, “mulai sekarang dengarkan ªкŭ baik2. Guci pecah ini, yang ingin menyatukannya adalah ªкŭ. Mengerti?”

“Ayah…”
“Yu Jeong!”
“Ya guru….”
“Tidurlah…. Tae Do kau juga pulanglah….” Perintah Eul Dam.

Tae Do dan Jung Yi pun menurutinya. Eul Dam menatap guci itu dengan gemetar dan ketakutan.

Kang Chun menyuruh anak buahnya melakukan sesuatu, untuk mengkonfirmasi apakah benar, P Gwang Hee memberikan guci itu kepada Eul Dam.

Di kamarnya P Gwang Hee tak tenang, dalam hati dia bertanya2 apa dia bisa percaya pada Jung Yi.

Orang yang dipercaya P Gwang Hee sedang tertidur nyenyak di kamarnya. “̮hϱ²hϱ²hϱ²hϱ²”̮

Masih di ruangan yang sama, Eul Dam memelepas lagi guci yang sudah Jung Yi susun menjadi serpihan kembali. Eul Dam gemetar dan menangis meratapi serpihan guci itu.

Ternyata Tae Do tidak pulang, dia masih berada di halaman rumah Jung Yi, dia mencari sepihan guci yang hilang. Tae Do tak pulang sampai pagi. Dia menunggu di depan rumah Jung Yi sampai terkantuk2.

Untungnya dia bisa terbangun dan langsung bersembunyi, saat Eul Dam keluar untuk pergi. Eul Dam sepertinya pergi diam2, dia tak ingin Jung Yi tahu kepergiannya.

Tae Do membangunkan Jung Yi dan memberitahunya kalay Eul Dam pergi. Melihat ayahnya pergi, Jung Yi mengikutinya. Jung Yi mengikutinya diam2.

Sampai di hutan, tiba2 ada seseorang yang menyerangnya. Eul Dam kira itu adalah perampok, sehingga dia memberinya uang yang dia miliki. Namun orang itu malah mengambil tas milik Eul Dam dan memeriksanya.

Tepat pada saat itu, Jung Yi datang dan langsung berteriak meminta bantuan. Tak mengambil apa2, orang bertopeng itupun pergi begitu saja.

Eul Dam menyuruh Jung Yi pulang dan jangan mengikutinya. Namun Jung Yi tak ♏ªϋ membiarkan ayahnya pergi sendiri.

Tak ada yang bisa mengalahkan keras kepalanya Jung Yi. Eul Dam pun membiarkan Jung Yi ikut dengannya. Perjalanan mereka memang lumayan jauh, Eul Dam senyum2 sendiri saat melihat Jung Yi yang kelelahan.

Eul Dam benar2 sudah menganggap Jung Yi seperti anaknya sendiri. Diapun menawarkan diri menggendong Jung Yi, tentu saja Jung Yi tak menolaknya, dia bahkan lompat kegirangan. 

Powered by Telkomsel BlackBerry®
Bagikan ke teman: