Sinopsis Goddess Of Fire, Jung Yi Ep 1 ( bagian 2 )

 Goddess of Fire Jung Yi, Sinopsis
Sinopsis Goddess of Fire, Jung Yi episode 1 bagian 1 berakhir saat Yeon Ok meninggal tertimbun bangunan pembakar tembikar setelah melahirkan Jung Yi. Yeon Ok menitipkan Jung Yi pada Eul Dam dan memintanya menjadikan pengrajin tembikar yang nantinya akan menyajikan tembikar putih pada Raja.
Sinopsis Goddess of Fire, Jung Yi episode 1 bagian 2

Kang Chun menemani anaknya tidur, dalam hatinya dia berkata berkata kalau dia akan memberikan segalanya untuk Yook Do.

“Kau harus bisa menjadi pengrajin tembikar ternama dari Joseon.”
Walaupun dia tahu, dia mempunyai anak dari Yeon Ok, dia tetap menganggap kalau anaknya hanya satu yaitu Yook Do dan dia ingin Yook Do lah yang mengikuti jejaknya.
Eul Dam membawa Jung Yi ke sebuah rumah, dimana yang empunya juga mempunyai anak bayi.

“Yeok Ok, kau lihat ini? Anak ini adalah putrimu…. Tidak…. Putriku… ªкŭ juga bermimpi punya seorang putri yang menyajikan tembikar kepada Yang Mulia. ªкŭ pasti, akan membesarkan anak ini menjadi pengrajin nomor satu di Joseon. Lihatlah baik-baik. Dengan hati yang tulus ªкŭ berjanji padamu.” Ucap Eul Dam dalam hati sambil menyuapi Jung Yi bubur.

Wanita yang sedang menyusui anaknya itupun tak tega melihat Jung Yi yang baru lahir langsung di beri bubur. Wanita itupun meminta Jung Yi dan menyusuinya. Jung Yi kecilpun menyusu dengan lahapnya.

Jung Yi bayipun sekarang sudah berubah jadi Jung Yi remaja. Dia sedang berlatih membuat tembikar bersama Hwa Ryung. Tembikar milik Hwa Ryung bisa terbentuk dengan baik, namun sayang tembikar milik Jung Yi hancur. Dia tak bisa membuat tembikar, dan dia mengeluh kenapa dia selalu disuruh belajar membuat tembikar.

Tae Do datang, dengan ⓢⓔⓜⓐⓝⓖⓐⓣ Jung Yi langsung meninggalkan latihannya dan menghampiri Tae Do. Saking semangatnya, sampai2 dia menyenggol tirai di depan mereka, dan tirai itu menutupi pandangan Hwa Ryung untuk melihat Tae Do.
Hwa Ryung pun membuka kembali tirai itu, sambil memutar2 tanah liatnya, Hwa Ryung berharap dalam hati agar Tae Do berbalik agar dia bisa melihat wajahnya.

” Berbaliklah….. Berbaliklah….”

Berkat Jung Yi yang mengambil anak panah milik Tae Do, akhirnya Tae Do pun berputar dan mengarah ke Hwa Ryung. Betapa senangnya Hwa Ryung saat melihat wajah tampan Tae Do.

Tae Do mengajari Jung Yi memanah. Namun Jung Yi gagal melakukan tembakan dengan baik. Karena merasa belajar memanah rumit, Jung Yi pun mengambil pedang milik Tae Do dan mulai mengayunkannya.

Jung Yi terus mengayunkan pedang itu sambil berlari2. Tae Do mengejarnya dan berusaha menghentikannya dengan memberi peringatan kalau itu berbahaya. Seperti di suruh, Jung Yi tak mendengar kata2 Tae Do, dia terus mengayunkan pedangnya dan hampir saja dia merusak sebuah tembikar, tapi itu tidak terjadi karena Tae Do berhasil menangkap tembikar itu dari tebasan pedang Jung Yi.

Seperti anak kecil Jung Yi terus mengayunkan pedangnya, sampai2 dia terjatuh dan menghancurkan beberapa guci besar milik eul Dam.

Eul Dam datang bersama ayah Hwa Ryung karena mendengar suara pedahan guci. Hwa Ryung juga datang dari arah yang berlainan. Hwa Ryung senang melihat ayahnya datang.
Eul Dam kemudian menyuruh Hwa Ryung mengajaknya ke dalam rumah terlebih dulu, karena sepertinya Eul Dam ingin mengomeli Jung Yi.

“Sudah kubilang kita akan kedatangan tamu penting hari ini, apa kau tidak dengan kata2 ayahmu ini?” Teriak Eul Dam pada Jung Yi. “Bersihkan itu dan masuklah ke kamarmu.”

Jung Yi hanya bisa mengiyakan.

Ayah Hwa Ryeong memuji Eul Dam sebagai pengrajin tembikar terbaik di Joseon, karena itu di sangat bangga anaknya belajar dengan Eul Dam. Hwa Ryung pun menyatakan hal yang sama, dia senang bisa belajar dengan Eul Dam namun dia menyayangkan dia tak punya teman untuk bersaing di tempat itu.
Mendengar itu Eul Dam bertanya apa Jung Yi bukan teman untuk Hwa Ryeong. Dia pun menjawab kalau Jung Yi adalah terman terbaik di dunia ini, tapi dia tidak tertarik dengan tembikar, karena itu Jung Yi tak bisa di jadikan teman bersaing.
Sim Jong Soo, ayah Hwa Ryung langsung menyela perkataan anaknya itu, karena dia pikir itu tak sopan mengatakannya langsung pada Eul Dam. Seperti biasanya Eul Dam pun tak cepat marah ataupun tersinggung, dia mengatakan apa yang di katakan Hwa Ryung tidaklah salah, sebuah kompetisi sangatlah penting untuk mengasah kemampuan dengan begitu bisa berkembang.
“ªкŭ bisa mencapai posisi Byeon So, juga karena ada teman dekat sebagai teman pesaingm” tambah Eul Dam.
Jong Soo bertanya siapa teman yang Eul Dam maksud, Eul Dam menjawab Lee Kang Chun, guru pengrajin di Bun Won.
Jong Soo kemudian menyuruh Hwa Ryung keluar dan mengambilkan mereka berdua arak beras. Setelah Hwa Ryung keluar, Jong Soo memulai pembicaraan serius dengan Eul Dam.

“Menjadikan Lee Kang Chun sebagai teman akrab, apa kau benar2 serius?” Tanya Jong Soo.
“Ketika ªкŭ di tuduh karena pemberontakan waktu yang lalu, dia menyelamatkanku dari bahaya.”
“Nanti kau juga akan tahu, ada rumor aneh yang terus beredar…….” ßềLū♏ sempat Jong Soo meneruskan kata2nya, Eul Dam mengatakan cukup. Dia sepertinya sudah tahu semuanya namun tak ingin mempermasalahkannya.
Eul Dam kemudian mengubah topik pembicaraan dan bertanya bagaimana kabar pangeran Gwang Hee? Jong Soo jadi bertanya2 kenapa Eul Dam tak ♏ªϋ tahu tetang orang lain, namun untuk urusan P Gwang Hee, dia selalu mengkhawatirkannya.
Eul Dam menjawab karena dia sangat bersyukur P Gwang Hee lahir sehingga dia bisa bebas dari hukuman pancung. “Meskipun ßềLū♏ pernah melihatnya…. Tapi dia adalah pahlawanku. ªкŭ selalu berfikir seperti itu.”

Orang yang sekarang dianggap pahlawan oleh Eum Dam sedang berburu di hutan. P Gwang Hee berburu bersama P Imhae. Dengan angkuh P Imhae memperingatkan P Gwang Hee, karena dia adalah putra tertua, jadi P Gwang Hee tak boleh berlari di depannya. Selain itu, dia juga menyuruh P Gwang Hee untuk tidak menangkap mangsa.

Untuk perintah pertama P Gwang Hee mengiyakan, namun untuk perintah yang kedua, P Gwang Hee sulit mengiyakan, “karena sudah datang untuk berburu, tentunya harus menangkap.”
P Imhae marah karena P Gwang Hee membantahnya, “ªкŭ hanya ingin berburu, tak bermaksud menentang kakak. Jadi jangan khawatir.”
P Imhae mengingatkan P Gwang Hee untuk tidak pernah menentangnya.

Ternyata bukan hanya mereka berdua yang pergi berburu, mereka berburu bersama ayah mereka, Raja Sunjo.

Raja Sunjo mendapat rusa sebagai target mangsanya. Saat P Imhae akan mengejarnya juga, P Gwang Hee menghentikannya, dan mengatakan kalau rusa itu adalah mangsa ayah mereka, jika P Imhae kali ini ingin berburu mengukur kemampuannya, lakukanlah dengan mencari mangsa yang lain. P Gwang Hee pun memberitahu dimana ada mangsa buruan yang buas, P Imhae setuju untuk pergi kesana.

Beralih pada Jung Yi yang berjalan mengendap-endap, sepertinya dia ♏ªϋ pergi dari rumah diam2. Namun langkahnya terhenti saat dia bertemu dengan Hwa Ryung yang mengejutkannya.
Pada Hwa Ryung, Jung Yi beralasan ingin pergi mengumpulkan tanah liat. Namun sayang kebohongan Jung Yi terungkap karena Hwa Ryung sudah tahu dari Tae Do kalau Jung Yi ingin pergi berburu.
Jung Yi berjanji sebelum malam dia akan pulang, Jung Yi pun langsung berlari pergi.

P Gwang Hee menemukan mangsa berburunya yaitu seekor babi. Saat dia akan memanah mangsanya itu, tiba2 rombongan P Imhae datang, tak ingin keduluan dan tak ingin di ambil alih mangsanya oleh P Imhae, P Gwang Hee langsung memanah babi itu. Namun sayang panahan P Gwang Hee tak membuat babi itu mati, babi itu malah berlari pergi dengan kencang.

Mengetahui P Gwang Hee mendahuluinya mencari mangsa, P Imhae marah karena P Gwang Hee tak pernah menunggunya. Tak ♏ªϋ mendengar ocehan kakaknya itu panjang lebar, P Gwang Hee langsung menyuruh kakaknya untuk mengejar babi itu, “setelah terpanah, ªкŭ yakin dia tak bisa berlari jauh…..”
Dasar P Imhae yang tak ♏ªϋ pernah kalah, masih tetap tak terima. Sebelum dia pergi mencari babi itu, dia memukul kuda. P Gwang Hee sehingga kuda itu berlari menjauhi P Gwang Hee.

♏ªϋ marahpun tak bisa, P Gwang Hee berjalan menyusuri hutan untuk mencari kudanya. Di tengah perjalanan tiba2 dia terjatuh ke lubang, dia masuk perangkap seseorang.
P Gwang Hee berusaha naik, tentu saja dia ingin keluar dari lubang perangkap itu, namun tak berhasil.

Ternyata yang membuat perangkap itu adalah Jung Yi dan Tae Doo. Jung Yi senang karena dia kira mereka mendapat hewan buruan.
“Yang mengusulkan membuat lupang perangkap adalah ªкŭ, jadi jika ada mangsa didalamnya itu punyaku. Benarkan kak?”
“Kau hanya menggunakan mulutmu, yang benar2 menggalinya adalah ªкŭ.” Jawab Tae Doo.

Saat mereka berjalan menuju lubang perangkap itu, mereka bertemu dengan rusa. Tae Do langsung menyuruh Jung Yi diam, dan dia mengeluarkan panahnya bersiap memanah rusa itu. Namun sayang ßềLū♏ sempat Tae Do memanah rusa itu, rusa itu pergi.
Tae Do kemudian mengatakan kalau dia akan menangkap rusa itu, jadi dia menyuruh Jung Yi pergi duluan ke tempat perangkap itu. Jung Yi setuju, tapi dia tetap mengatakan kalau mangsa yang ada di perangkap itu adalah miliknya.
Tae Do tak membantahnya, dia juga memberikan pedangnya pada Jung Yi untuk berjaga2.

Jung Yi tiba di lubang perangkap, mendengar suara erangan P Gwang Hee, Jung Yi mengira mereka sudah mendapatkan seekor harimau. Dengan hati2, Jung Yi berjalan mendekati lubang perangkap.

P Gwang Hee masih berusaha keluar dari lubang tersebut, namun sayang dia gagal, itu membuatnya kesal hingga berteriak2. Tak disangka, Jung Yi sudah berada di pinggir lubang melihat P Gwang Hee. Jung Yi kecewa, karena yang terpeangkap dalam lubang bukan seekor mangsa buruan.
“Jangan2 kau yang membuat perangkap ini?” Tanya P Gwang Hee.
“Benar, ªкŭ pemilik perangkap ini.” Jawab Jung Yi. “Sedang apa kau masuk ke dalam tanpa permisi? ” Tanya Jung Yi kesal. LOL

“Tunggu diatas, ªкŭ tidak akan memaafkanmu.” Ucap P Gwang He tak kalah kesal.
“Kalau begitu naiklah, ” tantang Jung Yi dan diapun berjalan pergi.
P Gwang Hee mengira Jung Yi pergi meninggalkannya, dia berteriak2 memanggil. Tapi ternyata Jung Yi tidak pergi, dia mengeluarkan tali yang dia bawa dan mengikatkannya di sebuah pohon.

Sayangnya, saat Jung Yi mengikatkan tali itu, dia malah dilempar batu oleh P Gwang Hee.
“Melihat sikapmu yang tidak baik padaku, kenapa ªкŭ harus menyelamatkanmu?” Ucap Jung Yi kesal.
“apa kau tahu siapa ªкŭ? ” Tanya P Gwang Hee. “Jika kau mengabaikanku, ªкŭ akan memusnahkan seluruh keluargamu.” Teriaknya.

“Benar2 menyebalkan….” Keluh Jung Yi. “Simpanlah tenagamu dan diam saja disana.”

Jung Yi baru melangkah akan pergi, tiba2 P Gwang Hee berteriak kesakitan, dia mengeluh sudah tergigit ular dan racunnya sudah menyebar. Tentu saja Jung Yi terkejut dan penasaran. Jung Yi mengulurkan tangannya, P Gwang Hee yang berpura2 menunjukkan bekas gigitan ular, malah menarik tangan Jung Yi. Jung Yi jatuh ke dalam lubang juga, dan pendaratan jatuhnya itu loh….. Yang so sweet. Dia jatuh ke pelukan P Gwang Hee.

Berada di posisi seperti iti, membuat keduanya canggung dan langsung memperbaiki posisinya.
Jung Yi marah2, kenapa P Gwang Hee melakukan itu. Karena dia sekarang juga di dalam lubang, bagaimana bisa dia menyelamatkan P Gwang Hee, “bagaimana caranya keluar?”
Bukannya menjawab atas apa yang sudah dia lakuk, P Gwang Hee malah memerintah Jung Yi untuk berlutut padanya.
“Apa?”
“Kuminta kau berlutut!!!”
“Lebih baik kau yang berlutut. Lalu tunggu setelah ªкŭ mendapatkan tali untuk naik.” Ucap Jung Yi.
“Kau memintaku percaya padamu, ªкŭ akan memanggil prajurit datang, jadi berlututlah.”

Walau sudah mengatakan itu, Jung Yi tak percaya, dia menganggap P Gwang Hee sudah berkata sembarangan. Jung Yi masih menganggap kalau P Hwang Hee benar2 di gigit ular, dan dia ingin mengobatinya.
P Gwang Hee terdiam. Jung Yi baru sadar kalau dia sudah di bohongi. Tak ingin di bilang pembohong, P Gwang Hee menunjukkan tangannya. Jung Yi memeriksanya dan tak ada bekas gigitan. Jung Yi pun menggenggap tangan P Gwang Hee dengan kencang sampai2 P Gwang Hee kesakitan.
Jung Yi lalu mengatakan kalau racunnya sudah menyebar keseluruh tubuh. Mendengar itu P Gwang Hee terkejut. Jung Yi juga mengambil pedangnya dan mengatakan kalau tangan P Gwang Hee harus di amputasi.
“Apa kau sedang bercanda?” Tanya P Gwang Hee.
“Bercanda apa?”
“Tidak digigit, bagaimana bisa menyebar? ” ªкŭ P Gwang Hee akhirnya.
Jung Yi tersenyum. “Mulut terus berbohong, itulah sebabnya hanya binatang buas yang bisa masuk perangkap?”
“Kurang ajar, kau tak tahu siapa ªкŭ? BeraninyA kau menyamakan ªкŭ dengan binatang buas. ªкŭ….. ªкŭ adalah pangeran negara ini….”
Jung Yi terkejut, “apa kau benar2 seorang pangeran?”

P Gwang Hee kemudian menyuruh berlutut. Jung Yi langsung berlutu dan meminta pengampunan. Melihat Jung Yi seperti itu, P Gwang Hee bersikap bijaksana dan memberi pengampunan.
Namun tiba2 Jung Yi berdiri dan berkata “kau kira ªкŭ akan seperti itu?”
P Gwang Hee terkejut, karena Jung Yi tadi hanya pura2.
“Berbicara sopan denganmu, sungguh menyedihkan.” Ucap Jung Yi.
“Apa?”
“Pangeran? Sungguh konyol. Berapa orang yang sudah kau tipu sebelumnya? Apa kau tak takut di hukum langit?” Teriak Jung Yi.
“Diam! Gadis busuk!” Teriak P Gwang Hee.
“Bajingan!” Teriak Jung Yi tak ♏ªϋ kalah. P Gwang Hee tersentak mendengar dia di bentak seperti itu.
“kau dengar baik2, kakakku akan segera datang. Jika berani berbohong lagi, ªкŭ akan menyuruhnya menyelamatkanku dan meninggalkan kau disini. Hati2.”
P Gwang Hee tak terima di perlakukan seperti itu,dia terus berkata dengan nada tinggi, namun Jung Yi tak sedikitpun takut

Jung Yi lalu berteriak memanggil Tae Do, dan mengatakan kalau dia sedang bersama orang aneh. Namun sayang, orang yang di panggil2 Jung Yi, sedang asik berburu. Tae Do berhasil mendapatkan rusa yang menjadi mangsanya. Saat dalam perjalanan menuju ke tempat Jung Yi, Tae Do melihat babi besar. Tae Do pun mengeluarkan anak panahnya dan berniat memanah babi tersebut.
Bukannya menjauh, babi itu malah berjalan mendekat ke arah Tae Do ( mungkin ♏ªϋ menyerodok Tae Do ). Tae Do dengan cepat memanahkan anak panahnya tepat mengenai kepala babi itu. Dengan sekejap babi itupun tergeletak mati. Ternyata babi itu adalah babi yang di panah oleh P Gwang Hee sebelumnya, masih ada anak panah di perut babi itu.
Saat Tae Do akan mengambil babi itu, rombongan P Imhae datang dan langsung menyuruh Tae Do berhenti. P Imhae turun dari kudanya dan mengatakan kalau babi itu miliknya. Namun Tae Do tak ingin menyerahkannya begitu saja, karena dialah yang membunuh babi itu.

P Imhae mengaku kalau dia sudah memanah babi itu terlebih dulu. Tae Do menjelaskan kalau panah diperut tidak membuatnya mati, yang membuat babi itu mati adalah panah darinya. Jadi dapat dipastikan kalau babi itu adalah milik Tae Do.
P Imhae tak bisa terima. Tae Do kemudian mengatakan lagi kalau orang yang memanah babi itu pasti bukan P Imhae, karena anak panah yang menancap dengan anak panah milik P Imhae berbeda.
P Imhae kesal, dia langsung menyuruh prajuritnya menangkap Tae Do. Para prajurit itupun memaksa Tae Do berlutut pada P Imhae.
Tae Do tak mengerti kenapa dia harus diperlakukan seperti itu, karena dia merasa dia tak bersalah.

Kembali ke lubang perangkap, dimana. Jung Yi dan P Gwang Hee masih disana tanpa bisa berbuat apa2. P Gwang Hee terus bertanya pada Jung Yi apa kakaknya akan benar2 datang menyelamatkannya. Karena P Gwang Hee selalu bertanya pertanyaan yang sama, Jung Yi pun kesal dan mengatakan kalau kakaknya pasti akan datang.
“Pasti dia sedang mendapat mangsa yang besar, jadi akan datang terlambat.” Ucap Jung Yi.
P Gwang Hee yang sudah bosan berada di lubang itu langsung membujuk Jung Yi untuk berlutut sehingga P Gwang Hee bisa keluar dari lubang dan mencarikan kakaknya.
Namun Jung Yi tak ♏ªϋ di bohongi untuk kesekian kalinya oleh P Gwang Hee. Dengan logika saja, P Gwang Hee ßềLū♏ pernah bertemu dengan Tae Do, mana bisa dia mencarinya.
“Meskipun keluar, harusnya ªкŭ yang keluar. Yang harus berlutut adalah kau.” Ucap Jung Yi.
” Sudah kubilang sebelumnya, ªкŭ adalah pangeran negeri ini.”

Mendengar P Gwang Hee mengatakan itu, benar2 membuat Jung Yi tak suka. P Gwang Hee pun mengeluh, kalau Jung Yi pasti tak bisa berlutut. Seperti diberi instruksi, Jung Yi langsung memperagakan cara berlutut, melihat itu, P Gwang Hee tak ♏ªϋ membuang kesempatan, dia langsung berniat naik dengan menggunakan punggung Jung Yi.

Selain karena kaget dan karena dia perempuan, Jung Yi tak kuat menahan tubuh P Gwang Hee, dan akhirnya mereka jatuh lagi, dan kali ini posisinya terbalik dari yang sebelumnya. Sekarang posisi Jung Yi di bawah dan P Gwang Hee di atas.
Menyadari itu, Jung Yi langsung mendorong P Gwang Hee, “penipu…. Kau ini orang yang kurang ajar.”.
P Gwang Hee pun berkata kalau tak ingin bersama orang yang kurang ajar, Jung Yi harus membantunya keluar, “bukannya kau masih punya kakak yang akan datang melihatmu.”

Jung Yi tentu saja tak menyetujuinya. “Tunggulah saat kita keluar dari dalam sini. ªкŭ akan membawamu ke kantor pemerintahan, lihat saja.”
Mendengar kantor pemerintahan, P Gwang Hee malah menantang Jung Yi, “ini yang kau katakan, saat waktunya tiba, jangan salahkan ªкŭ.”
Jung Yi tak gentar oleh ancaman P Gwang Hee, malah dia balik menantang. Jung Yi berbalik, dia bertanya2 kenapa Tae Do tak kunjung datang.
Tae Do sudah diikat di sebuah pohon, dan semua hasil buruannya di ambil oleh P Imhae. Dengan kesal Tae Do mengatai P Imhae sebagai pencuri.
Dikatain seperti itu, P Imhae tak terima, “katakan lagi….”

“Satu panah saja ßềLū♏ tertancap tapi malah mengambil mangsa orang lain. Masih menganggap dirimu seorang pria?”
“Satu panah pun ßềLū♏ tertancap. Kau sangat ingin tahu caraku memanah?” Tanya P Imhae. ” Baiklah ªкŭ sendiri yang akan memperlihatkan kemampuan memanahku.”

P Imhae lalu mengambil anak panahnya, dan mengarahkannya pada Tae Do. Lumayan bikin tegang sih, apalagi liat ekspresi Tae Do yang ketakutan. Tapi tenang, Tae Do gak papa, karena King Sinjo datang dan menghentikan aksi anaknya itu.
King Sinjo melihat 2 hasil buruan dan juga Tae Do, “siapa anak itu? Dimana P Gwang Hee?”
“Itu….. Itu….. ” P Imhae terbata2, dia tak bisa menjelaskan apa2.

King Sinjo menyuruh prajuritnya melepaskan Tae Do dan membawanya ke hadapnnya. Karena Tae Do tak berlutut di depan King Sinjo. P Imhae dengan berteriak menyuruh Tae Do berutut karena yang ada di hadapannya adalah Raja. Tae Do masih tak percaya, dengan paksa dua prajurit yang memeganginyapun memaksa dia berlutut dengan menendang lututnya.
Pada Raja Sinjo, P Imhae mengatakan kalau dia sebenarnya sedang mencari Gwang Hee, “tapi orang ini, menyisipkan panah P Gwang Hee di mangsa yang muncul.”
“Panah Gwang Hee.” Ucap Raja Sinjo terkejut.

P Imhae mengatakan kalau tingkah Tae Do aneh, dan menuduh Tae Do akan membahayakan Gwang Hee, ” karena itu saya mengintrogasinya”.
“Apa kau melukainya?” Tanya Raja King pada Tae Do.
“Tidak, hamba sungguh tak tahu siapa dia dan juga tak pernah bertemu dengannya. Hamba hanya melukai babi liar itu.” Jelas Tae Do yang langsung dipotong oleh P Imhae.
“Ayah! Hamba ingin melanjutkan penyelidikan untuk mencari tahu keberadaan Gwang Hee. Mohon izinkan hamba”.

Beralih ke rumah Tae Do, dimana para prajurit datang dan menangkap ayah Tae Do. Tae Do terkejut saat mengetahui ayahnya juga di bawa2.

Prajurit yang menangkap ayah Tae Do melapor kalau mereka tak menemukan P Gwang Hee di rumah Tae Do.
Raja marah dengan laporan yang di bawa prajurit itu, “jika tidak segera menemukannya kembali, sebagai gantinya kepalamu akan kupenggal.”

P Imhae datang bersma Tae Do menemui Raja. Tae Do mengatakan kalau dia ingin membantu mencari P Gwang Hee karena dia sudah tau benar seluk beluk hutan di gunung itu, “jika hamba bisa menemukan pangeran sebelum gelap, mohon lepaskan ayah hamba dan hamba.”
Raja setuju, namun jika Tae Do tak bisa menemukannya, maka Tae Do akan di hukum.

Di lubang perangkap P Gwang Hee sudah merasa kedinginan, sedangkan Jung Yi sedang berusaha membuat api dari kayu. Namun sayang api buatan Jung Yi tak jadi2.
Melihat P Gwang Hee kedinginan, Jung Yi pun tak tega, dia berusaha menyelimuti P Gwang Hee dengan roknya. Tentu saja P Gwang Hee menolaknya.
Jung Yi mengatakan kalau itu adalah cara yang dilakukan kakaknya untuk menyelamatkannya saat mereka tersesat di hutan.
P Gwang Hee masih tak bisa terima, karena mereka adalah laki2 dan wanita tak boleh berdekat2an seperti itu.
“Kau orang tak sopan, masih ada harga diri? Pepatah mengatakan, ‘lebih baik hidup daripada mati membusuk’. Jika tidak ♏ªϋ mati membeku diamlah disitu.”

Jung Yi menyelimutkan lagi roknya pada P Gwang Hee, kali ini P Gwang Hee tak menolak, dia malah mendekat pada Jung Yi, berselimut pada rok Jung Yi.
Walaupun Jung Yi yang menawarkan roknya, tapi berada dekat dengan seorang laki2, membuat Jung Yi gugup juga.

Melihat Jung Yi yang mulai malu2, P Gwang Hee malah menggodanya. P Gwang Hee malah mendekat dan semakin mendekat pada Jung Yi.

Jung Yi tak tahan lagi, dia langsung berdiri dan marah pada P Gwang Hee, “apa yang sudah kau lakukan, ªкŭ tidak berlari, tapi kenapa jantungku berdegup cepat?”
Mendengar Jung Yi berkata seperti itu membuat P Gwang Hee tersenyum.
“Kenapa kau tersenyum? Jangan hanya tertawa, cepat jawab ªкŭ.” Rengek Jung Yi.

P Gwang Hee berdiri dan menjawab, “itu karena kau terpesona padaku.”
“Terpesona? ªкŭ terpesona padamu?” Tanya Jung Yi.

P Gwang Hee berjalan mendekat i Jung Yi. Jung Yi pun terus berjalan mundur. Mentok di dinding tanah, Jung Yi sudah serba salah tigkah tiba2 P Gwang Hee memberi isyarat diam.

Terdengar suara prajurit memanggil2 P Hwang Hee. Ternyata benar, Tae Do dan P Imhae bersama para prajurit sedang menacari P Gwang Hee. P Gwang Hee senang, akhirnya ada yang mencarinya.

Mendengar panggilan “Yang Mulia”, Jung Yi sangat amat terkejut. “Yang Mulia… Jangan-jangan….. Kau benar2 yang mulai? ” Tanya Jung Yi terbata2…..

Dan P Gwang Hee hanya menjawab dengan senyuman kemenangan.
Note: “akhirnya selesai juga sinopsis episode 1, awalanya sedikit kesusahan menulis sinopsis drama ini, pasalnya aku gak terlalu tahu nama2 karakter di drama ini, di tambah lagi nama2 yang ada di subtitlenya rancu. Setelah browsing2 di situs2 tentang drama ini, cari daftar pemain yang pakai gambar, akhirnya dapat juga dan bisa membantu penulisan sinopsis ini.
Bagikan ke teman:
the goddess of fire jung yi ep 1