Sinopsis Shark Episode 1 ( Bagian 2 )

 Shark, Sinopsis
Pengen cepet juga selesai nulis ini sinopsis, karena aku nonton sekalian nulis. Dari sinopsis sebelumnya, Hae Woo menemui wanita yang digosipkan dengan ayahnya, pada wanta itu Hae Woo langsung marah-marah, dan akhirnya membuat wanita itu juga terpancing emosi, sampai-sampai dia hampir menampar Hae Woo. Untung saja ada Yi Soo yang menangkap tangan wanita itu.

Tanpa banyak bicara Yi Soo kemudian meraih tangan Hae Woo dan membawanya pergi.  Hae Woo berusaha melepaskan tangannya. Setelah berjalan cukup jauh, Hae Woo mengeluh sakit, dia mengatakan kalau pergelangan tangannya sakit. Yi Soo pun melepaskan tangan Haw Woo. Hae Woo berjalan meninggalkan Yi Soo, melihat cara berjalan Hae Woo, Yi Soo sadar kalau yang sakit bukanlah tangannya tapi kakinya Hae Woo. 

Tanpa bertanya lagi Yi Soo langsung menarik Hae Woo untuk duduk di bangku taman dan mengecek kakinya. Hae Woo menangis atas apa yang terjadi padanya akibat orang tuanya sendiri. Melihat kondisi kaki Hae Woo, Yi Soo menghela nafas, dan berkata kalau Hae Woo  begitu bodoh. Hae Woo menjawab kalau dia tidak apa-apa.

Yi Soo pun menambahkan kalau mereka harus mencari desinfektan ke apotik lalu ke RS besok pagi. Yi Soo kemudian  membungkus kaki Hae Woo dengan saputangannya. 

Hae Woo lalu mengatakan kalau dia sendiri yang akan memasukkan kakinya ke dalam sepatu. Hae Woo sudah berdiri, dan  Yi Soo langsung  menawarkan lengannya, karena Hae Woo pasti akan susah berjalan. Yi Soo juga menyuruh Hae Woo untuk berjalan menggunakan tumitnya agar dapat mengurangi rasa sakit. 

Hae Woo memegang lengan Yi Soo dan jalan perlahan. Dalam perjalanan pulang, Hae Woo bertanya apa Yi Soo adalah putra sopir Han. Hae Woo mengatakan kalau  sopir Han jauh lebih tampan dari Yi Soo. Yi Soo mengiyakan. Hae Woo kemudian bertanya apa Yi Soo tahu kalau hari ini adalah hari ulang tahunnya?

 “Kalau kau tidak tahu, kau harus mengingatnya, akan kupastikan untuk mendapatkan hadiah darimu tahun depan. Tapi, dalam situasi seperti ini, bukankah seharusnya kau menggendongku di punggungmu?”

Yi Soo nyengir dan berkata jangan bermimpi, keduanya tersenyum. Hae Woo kembali memgang lengan Yi Soo untuk membantunya berjalan dan kali ini lebih erat. 

Yi Soo dan Hae Woo sampai di rumah. Hae Woo duduk ditangga untuk melihat pertemuan Yi Soo dan ayahnya dengan kakek Jo dan Ui Sun. Kakek  Jo terlihat sangat ramah dan menyuruh Tuan Han dan Yi Soo duduk. Namun Tuan Han mengatakan kalau mereka biarlah berdiri saja. 

Kakek Jo bertanya apa Yi Soo benar satu kelas dengan Hae Woo? Yi Soo mengiyakan. Kakek  Jo kemudian bertanya lagi apa Yi Soo anak yang pandai. Kali ini Tuan Han yang menjawab kalau Yi Soo biasa saja. kakek Jo kemudian mengatakan kalau dirinya bukanlah orang yang menganggap belajar adalah segalanya karena orangnya itu sendirilah yang paling utama. 
“jika orang yang hanya memiliki otak tapi hatinya kosong, dunia ini akan terasa kosong juga.”

kakek Jo bertanya lagi pada Yi Soo, tentang cita-citanya dan apa yang ingin Yi Soo lakukan kelak? Mendapat pertanyaan itu, Yi Soo tak langsung menjawabnya, dia diam. Dan itu membuat Ui Sun yang dari tadi diam, langsung angkat bicara dan menyebut Yii Soo anak nakal. “orang tua sedang bertanya padamu.”
“aku ingin menghasilkan uang.” Jawab Yi Soo akhirnya.
Kakek  Jo tertawa dan bertanya lagi, setelah Yi Soo punya uang apa Yi Soo akan menghabiskannya. Yi Soo balik tanya apa ia harus menjawabnya. Mendengar itu, Ui Sun ikut bicara lagi dan bertanya apa ada alasan kenapa Yi Soo tak bisa menjawabnya? Ui Sun berkata seperti itu sambil mendengarkan bunyi jamnya. (euuum…. apa maksudnya yah… gk ngerti… kyknya itu kebiasaan dia)
Kakek  Jo  tidak memaksa, kalau Yi Soo tidak mau menjawab ya tidak apa-apa. Karena merasa tak enak, Yi Soo pun menjawab kalau dia akan menggunakan  uang itu untuk ayahnya dan Yi Hyun, adiknya.  Jawaban itu kontan langsun membuat Tuan Han menoleh ke arah Yi Soo. 
“apa rencanamu untuk mendapatkan uang? “ tanya Ui Sun.
“bagaimana caramu mendapatkan uang itu juga penting, tapi bagaimana menghabiskannya, itu jauh lebih penting. Bagaimana menurutmu?” ucap Kakek Jo. 
“menurutku uang itu ada yang halal dan yang haram, aku ingin mencari uang yang halal.” Jawab Yi Soo, yang membuat kakek Jo tertawa bangga, Hae Woo yang mendengarnya juga dibuatnya tersenyum.

“sekalipun hanya untuk sementara,anggap saja dirimu sebagai bagian dari keluarga kami, selama kalian tinggal disini. Anggap saja seperti rumahmu sendiri.” Mendengar itu, Ui Sun terlihat tidak senang, dia menyenderkan badannya di sofa sambil menggoyang-goyang jamnya. 
Kakek  Jo kemudian bertanya bagaimana dengan tempat tinggal yang sudah dia sediakan ? Tuan Han berterima kasih atas pemberian tempat tinggal itu, dan itu sudah sangat cukup untuk menjadi tempat tinggal mereka. Kakek Jo merasa kalau rumah besar itu terlalu sepi, jadi dengan bertambahnya kelaurga Han akan menjadikan rumah itu lebih baik. mendengar itu Ui Sun tambah terlihat tak senang.

Setelah bertemu keluarga Han, kakek  Jo menegur Ui Sun  soal gosip di koran. Waktu berlalu dan orang berubah, tapi tidak ada yang bisa mengubah masa lalu. Ui Sun  berusaha membela diri, dengan mengatakan kalau berita itu semuanya tidak benar. 
Kakek  Jo memperingatkan Ui Sun, “jangan membuatku kehilangan muka dan jaga sikapmu dengan benar!”

 “Itu..itu salah paham.. “
“DIAM!” bentak kakek  Jo.
Dari duduk, mereka sekarang berdiri dan kakek Jo masih tetap menceramahi Ui Sun, anaknya. Untuk seorang pria menyedihkan yang tak bisa mengendalikan dirinya, “aku tak bisa memberikan kepemilikan hotelku. Ingat itu!”
Keesokan paginya, Yi Soo membangunkan adiknya yang masih tertidur. Karena Yi Hyun tak juga mau bangun, Yi Soo langsung menggendongnya keluar. 
Yi Soo dan Yi Hyun menyiapkan sarapan. Tuan Han yang sudah bersiap-siap pergi bekerja, tersenyum melihat anak-anaknya yang kompak dan rajin dalam menyiapkan sarapan. 
Yi Soo dan Yi Hyun berangkat sekolah bersama. Mereka berdua memang kakak adik yang kompak. Mungkin itu yang membuat Yi Soo terkejut saat melihat Yi Hyun dewasa, dimana dia dituntut untuk menjadi orang lain.
Yi Soo sudah di sekolah, ditangga dia melihat Hae Woo yang duduk diam tak ikut ngbrol bersama teman-temannya. Walaupun terlihat melamun, Hae Woo menyadari kedatangan Yi Soo.
Yi Soo sedang fokus membaca di perpustakaan. Hae Woo juga pergi ke perpustakaan untuk menemui Yi Soo.
“Aku tidak mengira, kau ternyata siswa teladan, Han Yi Soo.”

Yi Soo menutup bukunya dan ingin pergi. Hae Woo heran, kenapa Yi Soo pergi? Yi Soo menjawab kalau terlalu berisik. Hae Woo lalu mengajak Yi Soo berteman. Yi Soo tidak mau. Hae Woo bertanya kenapa? Yi Soo menjawab kalau dia  tidak berteman dengan orang yang menyedihkan. 
“ Kenapa aku menyedihkan?”
“ Kenapa kau tidak masuk ke kelas?”
“Karena membosankan”
“ Itulah mengapa kau menyedihkan,” ucap Yi Soo dan pergi. 
Hae Woo menarik lengannya dan bertanya apa maksud Yi Soo.  Yi Soo menjawab, kalau bukan Hae Woo saja yang menderita di dunia ini. Hae Woo terus  berpikir kalau apa yang terjadi padanya tidak adil, sangat menjengkelkan karena tidak satupun orang yang mengerti penderitaanmu.
Hae Woo marah mendengarnya, “Tahu apa kau?”

“ Di dunia ini ada banyak orang yang katakanlah akan membuatmu terluka dan menderita. Tapi kau tidak perlu menjadi orang yang kalah. Lagipula, aku benci dengan kemarahan dari orang-orang kaya,” Yi Soo pergi. 
Hae Woo berteriak, “jangan bersikap seolah-olah kau lebih baik dariku! Sekalipun hanya karena aku tak ingin melihatmu, aku tetap tak akan masuk kelas. “

Yi Soo bertemu Joon  Young diluar perpustakaan, sepertinya Joon Young mendengar semuanya. Yi Soo diam saja dan meneruskan perjalanannya.

Ternyata kata-kata pedas Yi Soo berhasil. Hae Woo masuk ke kelas untuk belajar. Yi Soo tersenyum lebar. 

Bukan hanya di kelas, Hae Woo sepertinya mulai rajin belajar, karena Yi Soo melihat  Hae Woo di perpustakaan. Ia duduk di seberang Hae Woo dan mengamatinya. Yi Soo tertawa melihat Hae Woo berjuang mengatasi kantuknya.. 

Hae Woo merasakan sinar matahari yang menyinarinya. Dia mengangkat tangannya, dan memejamkan mata, Hae Woo menikmati hangatnya sinar matahari. Yi Soo melihat apa yang di lakukan Hae Woo dengan perasaan kagum.

Yi Soo pindah membaca di tangga. Hae Woo menghampirinya sambil mendengarkan lagu. Yi Soo hanya melihat sekilas ke arah Hae Woo dan kemudian melanjutkan membaca.

Tanpa berkata apapun, Hae Woo melepas satu hedset yang dia pakai ke telinga Yi Soo. Yi Soo pun menutup bukunya dan menikmAti lagu itu bersama Hae Woo.

Dari kejauhan Joon Young melihat apa yang mereka berdua lakukan.

Yi Soo dan Hae Woo kembali ke perpustakaan. Hae Woo tertidur di samping buku-bukunya, sedangkan Yi Soo masih tetap membaca.

Melihat Hae Woo tertidur di meja, Yi Soo pun ikut-ikutan menempelkan kepalanya ke meja dan mengarahkannya ke hadapan Hae Woo.

Melihat Hae Woo seperti akan terbangun, Yi Soo langsung membalikkan kepalanya membelakangi Hae Woo. Ternyata Hae Woo tak sepenuhnya tertidur, dia mengetahui apa yg dilakukan Yi Soo, terlihat dari Hae Woo yg tersenyum kecil.

Di rumah keluarga Jo, Ui Sun pulang dan langsung menanyakan putrinya, Mrs Park memberitahu kalau Hae Woo sedang belajar bersama Yi Soo. Mendengar nama Yi Soo, Ui Sun terlihat tak senang.

Ui Sun pun bertanya pada Nyonya Yoo apa yg sedang dia lakukan, sehingga membiarkan Hae Woo bergaul dengan Yi Soo. Dengan santai Nyonya Yoo berkata kalau apa salahnya Hae Woo melakukan itu, krn semua itu bukan berarti Hae Woo bertunangan dengan Yi Soo.

“Apa itu masuk akal?” Teriak Ui Sun, yang langsung terkejut saat kakek Jo muncul dan bertanya kenapa begitu berisik?

Ui Sun langsung menghampiri ayahnya dan mengatakan kalau Hae Woo selalu menghabiskan waktu bersama Yi Soo. kakek  Jo berkata kalau dia ßềLū♏ begitu buruk menilai orang lain, “karena Yi Soo lah, Hae Woo selalu ceria sepajang hari. Jika Hae Woo tak keberatan, ªкŭ berpikir untuk mengirim keduanya belajar ke luar negeri.”

“Apa? Dengan anak seperti….. Seperti dia….”

“Rapat umum pemegang saham akan segera diadakan. Buatlah rapat umum itu berjalan sukses tanpa ada keributan.” Perintah Kakek  Jo.

Walaupun kesal, Ui Sun tak lagi dpt berkata-kata.

Kembali ke sekolah dimana Yi Soo sedang berjalan pulang, tiba-tiba ada seseorang yang melempar ke arahnya, untung Yi Soo bisa dengan sigap menangkap bola itu.

Ternyata yang melempar bola itu adalah Joon Young. Joon Young mengajak Yi Soo bertanding basket. Namun Yi Soo menolaknya. (Jauhnya… Tinggi mereka…. )

Karena penolakan Yi Soo, Joon Young pun mengatakan kalau Yi Soo mirip dengan Hae Woo, “tipe yang meletakkan segalanya di garis depan, atau menyerah atas segalanya.”

“Apa yang ingin kau katakan?” Tanya Yi Soo.

“ªкŭ Oh Joon Young” ucap Joon Young sambil mengulurkan tangan tuk berjabat tangan.

Yi Soo menyambutnya, ” ªкŭ Han Yi Soo.”

“ªкŭ tahu, Han Yi Soo,” setelah mengatakan itu, tiba2 Joon Young langsung membanting Yi Soo. Yi Soo tak mengerti kenapa Joon Young melakukan semua itu padanya. Joon Young pun mengulurkan tangannya untuk membantu Yi Soo berdiri. Yi Soo menyambutnya, namun kali ini, Yi Soo melakukan hal yang sama, dia juga membanting Joon Young.

Yi Soo langsung bangkit. Joon Young memuji kecepatan Yi Soo. Joon Young mengangkat tangannya untuk meminta bantuan Yi Soo untuk bangkit. Yi Soo pun membantunya berdiri.

Tepat di saat Joon Young berdiri, Hae Wootiba-tiba datang dan langsung merangkul mereka berdua.

“Oh, kenapa kalian bisa berteman? Kalian saling mengenal?” Tanya Hae Woo yang hanya di jawab dengan senyuman oleh Yi Soo dan Joon Young.

Dalam perjalanan pulang, Hae Woo menceritakan kalau Joon Young punya adik yang bernama Joon Ho, namun dia sudah meninggal karena kecelakaan, “sejak saat itu, dia berubah. Dia tiba-tiba berubah dari siswa teladan menjadi pemimpin geng. Dia bilang dia tak akan memaafkannya sampai mati. Joon Young oppa sangat sayang dan perduli pada adiknya.”

Yi Soo bertanya bagaimana Hae Woo bisa tau tentang Joon Young dengan baik. Hae Woo menjawab itu semua karena keluarga mereka sangat dekat, jadi mereka sudah saling kenal sejak kecil.

Hae Woo tiba-tiba menghentikan jalannya dan berkata, “ªкŭ sudah putuskan.”

“Apa?”

“ªкŭ akan ikut kursus seni.”

“Menggambar?”

“Iya. Bulan depan, ªкŭ akan mulai mengambil pelajaran lagi. Jadi ªкŭ akan sangat sibuk.”

“Lalu?”

“ªкŭ hanya bilang kalau nanti pasti akan sulit untuk bertemu denganku.” Yi Soo tersenyum mendengarnya. “Untuk akhir pekan ini, ªкŭ berencana untuk membawamu ke tempat rahasiaku.”

Reporter yang di labrak Hae Woo sebelumnya, dengan kesal keluar dari mobil Ui Sun. Ui Sun mengejarnya.

“Bercerai atau mencari wanita lain…” Ucap Young Hwa  memberi pilihan pada Ui Sun.

Ui Sun mengeluh, kenapa Yeung Hwa sangat merepotkan. Ui Sun langsung mengeluarkan kartu kreditnya dan menyuruh Yeung Hwa menghilang untuk sementara sampai masalah mereka mereda. Yeung Hwa tentu saja menolaknya, dengan menepis kartu kredit itu. Ui Sun dengan kesal bertanya berapa yang sebenarnya Yeung Hwa inginkan.

Paginya, ada berita baru, dimana reporter Lee Young Hwa menyatakan kalau dia sudah dilecehkan secara seksual oleh Presiden Jo Ui Sun dari Hotel Gaya. Berita itu juga dibaca oleh seorang pria. Dia orang Jepang, namanya Yoshimura Junichiro. 

Di ruamh Kakek jo marah besar. Ia minta anaknya mundur dari manajemen Hotel untuk sementara waktu sampai semuanya menjadi tenang lagi. Ui Sun  memohon pada ayahnya untuk tidak menyuruhnya melakukan itu, dia terus mengatakan kalau semua itu adalah  kesalahpahaman, ia janji akan mengurus masalah ini. 
Kakek Jo membentaknya, “apa kau tidak dengar? Aku tidak akan menyerahkan kepemilikan hotel kepada orang yang tidak bisa mengendalikan dirinya!”
“ Ayah juga tidak sempurna. Paling tidak aku tidak menyingkirkan seorang ibu dari Hae Woo!”

Mendengar itu Kakek Jo murka dan menampar Ui Sun, “Dasar anak bodoh!”
Setelah mendapat tamparan itu Ui Sun keluar dari ruangan ayahnya. Sepertinya, Kakek dan Nenek Hae Woo bercerai dan Ui Sun tidak dibiarkan tinggal bersama ibunya. 
Yi Soo dan Joon Young main basket bersama. Tiba-tiba Dong Soo lari menemui mereka, ia menunjukkan berita tentang ayah Hae Woo kepada keduanya. 

Nonya  Yoo  tidak tahan lagi dan memutuskan untuk pergi ke Kanada, mungkin dia  berencana untuk tidak kembali lagi ke Korsel. Mrd Park berusaha mencegahnya, dia meminta Nyonya Yoo untuk menemui Hae Woo terlebih dulu sebelum pergi. 
Nyonya Yoo  menolak, “Aku bisa gila kalau terus berada di rumah ini. Setelah aku sampai di Kanada, aku akan menelponnya” Nyonya Yoo langsung  pergi. 
Hae Woo menghilang. Yi Soo kebingungan mencarinya di seluruh sekolah. Joon  Young memberitahu tempat rahasia Hae Woo pada yi Soo, karena menurutnya, Yi Soo lah yang di butuhkan Hae Woo saat ini. 

Yi Soo pergi ke villa terpencil, tapi tidak menemukan Hae Woo. Yi Soo lari ke arah hutan. Akhirnya Yi Soo menemukan Hae Woo duduk di tepi danau pinggir hutan. Hae Woo menoleh, ia terkejut dan tidak mengira akan melihat Yi Soo ditempat itu, karena memang dia belum memberitahu Yi Soo. Yi Soo tampak lega dapat menemukan Hae Woo. Tak bisa dipungkiri Hae Woo senang melihat Yi Soo datang. 

Yi Soo duduk di samping Hae Woo sambil memandangi danau yang jernih. Hae Woo membawa camcorder. Ia selalu merekam danau dengan cameranya. 
“sungguh menakjubkan, aku sudah merekam danau ini dengan kamera ini beberapa waktu lalu. Hebatnya, danau ini tetap seperti dulu, meskipun yang lainnya sudah berubah. Ibuku sudah pergi.”
“dia akan kembali” hibur Yi Soo.
“aku tahu dia tak akan kembali. Aku sudah mengetahuinya sejak lama. Kalau ibuku akan pergi suatu hari nanti,”

“ada banyak hal di dunia ini yang membuat kita tak bisa berbuat apa-apa. Terkadang, kita tak punya pilihan lain untuk melakukan apa yang b isa kita lakukan. Hae Woo…. aku lebih menyukai kau tak punya waktu yang sibuk karena akan membuatmu tak bisa berbuat apa-apa.” Ucap Yi Soo dengan senyumnya.
Yi Soo mendongak keatas dan menghela nafas. Dengan tersenyum dia berkata lagi, “jika kita melihat bintang dari sini, pasti keren sekali.”
Kali ini hae Woo yang menghela nafas. Hae Woo berdiri dan berjalan pergi, Yi Soo mengikutinya. Tiba-tiba Hae Woo berhenti dan berbalik. Dia meminta Yi Soo tetap di tempat. Hae Woo merekam Yi Soo, karena itu adalah hari pertama Han Yi Soo datang ke tempat persembunyian rahasia Jo Hae Woo. Yi Soo berusaha menolak untuk direkam, namun Hae Woo tak memperdulikannya, dia langsung bertanya pada Yi Soo, “apa yang paling kau sukai di dunia ini?”
“Ah jangan…” Yi Soo masih tak ingin di rekam.

“jawab saja…. Jo Hae Woo kah?” Yi Soo hanya tertawa. “cepat jawab! Jika kau tak melakukannya, sekalipun di sekolah, aku akan mengikutimu terus.” Ancam Hae Woo, dan Yi Soo masih diam saja. “Apa-apaan ini? Aku menyuruhmu untuk menjawabnya.”
Hae Woo berjalan mendekat sehingga wajah Yi Soo tampak jelas. Yi Soo menjawab “Hiu”.
“apa?”
“hiu tak punya kantung renang.”
“lalu bagaimana mereka bertahan hidup?”
“untuk bertahan hidup, mereka harus terus bergerak tanpa henti. Karena jika berhenti, mereka akan mati. Bahkan ketika sedang tidur, mereka harus terus bergerak untuk tetap hidup.”
“mereka pasti hidup dengan rasa lelah.”
“tetapi, di laut hiu yang terkuat.”
“jadi itu alasannya kenapa kau menyukai hiu? Karena hiu kuat?”
“tidak, aku hanya merasa kasihan. Karena sepertinya tak ada seorangpun yang menyukai hiu.”
“lalu, kalau aku menghilang, apa yang akan kau lakukan?”
“aku akan mencarimu.”
“dan jika kau tak bisa menemukanku?”
“aku pasti akan menemukanmu.”
“bagaimana? Bagaimana kau akan menemukanku?” Yi Soo diam sesaat sampai Hae woo menanyakannya lagi. bukannya menjawab, Yi Soo malah membelakangi Hae Woo. Dan itu membuat Hae Woo merengek agar yi Soo memberitahunya.

Yi Soo berbalik lagi dan berkata, “sampai aku mati. Aku akan terus mencarimu. Karena, aku tak akan bisa mati sebelum aku menemukanmu.”

Jawaban Yi Soo membuat Hae Woo tercengang. Mereka tertawa bersama. Tiba-tiba hujan datang. Mereka berlari-lari untuk mencari tempat berteduh.
Mereka sampai di bawah pohon besar. Mereka berdua berteduh disana. Dengan penuh perhatian, Yi Soo menyingkirkan daun yang ada di rambut Hae Woo. Yi Soo juga mengambil sapu tangannya dan mengelap wajah Hae Woo yang basah.

Hae Woo menoleh ke arah yi Soo, perlahan-lahan yi Soo berdiri di depan hae Woo. Dan dengan lembut dia mengecup kening Hae Woo.
Bagikan ke teman: