Sinopsis I Miss You Episode 21 ( Bagian 2 )

 I Miss You, Sinopsis
Sinopsis I Miss You Episode 21 bagian 2 akhirnya selesai juga, mungkin karena sudah banyak yang memposting sinopsis drama ini terlebih dulu, jadi aku gak terlalu bersemangat untuk menyelesaikannya lebih cepat, hehhehe. I Miss You berakhir dengan happy ending, Jung Woo dan Soo Yeon akhirnya bisa bersatu kembali sedangkan Hyung Joon harus menerima nasipnya, dia mengalami hal yang sama seperti  ibunya, menjadi orang yang tidak mengenali siapa-siapa lagi. 
Penasaran? gak usah berlama-lama lagi, mari kita simak sinopsis yang sudah saya buat ini.
Sinopsis I Miss You Episode 21 ( Bagian 1 ) !!!
Sinopsis I Miss You Episode 21 ( Bagian 2 ) !!!

Jung Woo dan Hyung Joon langsung dilarikan ke rumah sakit, dan langsung dilakukan pengambilan peluru pada tubuh mereka. Para tim medis terus berusaha menyelamatkan mereka berdua.

Hyung Joon belum sadarkan diri, dan dokter memberitahu Joo dan Ketua Tim, kalau mereka sudah melakukan yang terbaik, untuk kemungkinan sadar atau tidaknya, mereka hanya bisa mengandalkan kemauan pasien itu sendiri untuk sembuh. Melihat kondisi Hyung Joon yang seperti itu, dia tidak akan bisa bersaksi walaupun dia sudah sadar nantiinya. Dokter menjelaskan lagi, karena Hyung Joon kehilangan banyak darah, itu menyebabkan kerusakan pada otaknya.

Padahal Hyung Joon sudah melakukan pembunuhan, menyalahkan orang yang tak bersalah, penculikan, Hyung Joon benar-benar sudah melanggar semua hukum yang berat. Joo bertanya pada Ketua Tim, apakah Hyung Joon akan mendapat hukuman mati?

Ketua Tim menjawab tidak, “saat melakukan kejahatan, dia melanjutkan kehidupan seperti biasa. Jika dia koma, siapa yang akan kita hukum? “

Dalam tidurnya, Hyung Joon teringat saat dia bertemu dengan Soo Yeon, di malam 14 tahun yang lalu, saat itu Soo Yeon menyetop mobil yang dikendarai perawat Hye Mi. Hyung Joon juga meminta perawat Hye Mi untuk menyelamatkan Soo Yeon. Karena merasa Soo yeon lah satu-satunya orang yang bisa menjadi temannya, Hyung Joon meminta Soo Yeon untuk tidak meninggalkannya 14 tahun yang lalu. Soo Yeon pun tidak meninggalkan Hyung Joon dan ikut pergi dengan Hyung Joon, sampai mereka dewasa, mereka selalu saling bergantungan.

Hyung Joon dewasa juga masih meminta Soo Yeon untuk tidak pergi meninggalkannya, dia beralasan karena dia tidak bisa mengejar Soo Yeon. Karena Soo Yeon saat itu masih sangat percaya pada Hyung Joon. Dia pun berjanji kalau dia tidak akan pergi kemana-mana.

Berita utama berikutnya, terjadi penembakan di Suseong, Gaegu. Pelaku telah tertangkap. Seperti yang telah dilaporkan kepolisian, saat menangkap penjahat, terjadi penembakan…  yang melukai Polisi Han dan pelaku sendiri… keduanya sekarang sedang dirawat di RS.”

Pengadilan memutuskan untuk segera menghukum orang yang terlibat dengan kegiatan rentenir dan penyuapan.  Terpidana yang bertanggung jawab atas kegiatan ini adalah Presiden Han Tae Joon dari Bank Sangil. Dia akan dijatuhi hukuman berat

Kasus Hyung Joon dan Han Tae Joon langsung masuk berita.

Soo Yeon datang untuk menjenguk Jung Woo di rumah sakit. Saat Soo Yeon menggantungkan jas dinginnya, tiba-tiba dia mendengar suara yang memanggil namanya. “Soo Yeon”.

Soo Yeon berbalik perlahan, dia terkejut melihat Jung Woo yang terbaring di tempat tidur dan memanggi namanya. “Lee Soo yeon”.

“kau sudah bangun. Apa tidurmu nyenyak?” tanya Soo Yeon.
“ya, berapa lama aku tidak sadar?”
“10 malam, “ Soo yeon berjalan mendekati Jung Woo. “aku menjahit kancingmu, dan merajut syal, kenapa kau begitu lama baru sadar?”
“kau pasti cemas”

Soo Yeon lalu memeluk Jung Woo dengan lembut, “panggil namaku sekali lagi”
“hmmm?”
“suaramu, aku sudah lama ingin mendengarnya.”
Jung Woo menuruti permintaan Soo Yeon, “Soo Yeon-na…”
“sekali lagi…” pinta Soo Yeon dengan mata berkaca-kaca.
“Lee Soo Yeon….”
Soo yeon bangun dan menggenggam tangan Jung Woo dengan lembut, sedangkan Jung Woo terus menyebut nama Soo Yeon.

~ 10 bulan kemudian ~

Joo sedang bersantai di kantornya sambil menikmati segelas kopi, dia mata tertutup dia merekam suaranya sendiri, “ketika musim dingin ini berlalu, aku akan mendekati usia 40 tahun. Entah itu salju atau badai lewat. Aku takkan punya pacar”

Sedang asik-asiknya meratapi nasib percintaanya, Ketua Tim datang dan langsung menanyakan pada Joo, apa Joo sudah memecahkan kasusnya? Joo mengatakan kalau dia sedang tidak ingin memikirkan apapun, tapi Ketua Tim terus menyuruhnya bekerja, karena korban sedang dalam keadaan kritis. Joo dengan kesal mengatakan kalau dia sangat kesepian, “aku akan semakin tua dan rambut semakin botak, tapi harus terus mencari penjahat dan mati seorang diri.”

Tanpa memperdulikan ocehan atasannya, Joo langsung mengambil jaketnya dan pergi. Ketua Tim mengeluh, “kelinci gila sudah sadar, sekarang kau yang bertingkah gila. “

Jung Woo sudah berada di ruang interogasi, melakukan tugasnya sebagai polisi. Penjahat yang Jung Woo interogasi, masih bersikeras tak ingin mengakui kejahatannya. Dia beralasan kalau dia menusuk korban karena mereka berteriak padanya, padahal dia hanya ingin mencuri.

Jung Woo bertanya untuk terakhir kalinya, “dimana sandera itu?” Penjahat itu masih tetap mengatakan kalau dia benar-benar tidak tahu. Habis kesabaran Jung Woo langsung memukul penjahat itu. Dengan marah Jung Woo berkata, “kau menusuk orang karena mereka berteriak?”

Penjahat itu malah balik bertanya, apa Jung Woo pernah ditembak dengan pistol? Beraninya polisi menghajar orang? Tak menjawab langsung, Jung Woo memberi pukulan pada orang itu lagi.

“kau bukan manusia dan aku pernah ditembak dengan pistol! “ Jung Woo lalu mendudukkan penjahat itu dengan paksa, penjahat itu kesakitan. “katakan. Dunia yang dipenuhi dengan orang-orang yang kucintai, sampah sepertimu harus dihilangkan. Jadi, sampai kau menceritakan semuanya, aku akan terus memukulimu, jika aku dipecat karena memukulimu, aku akan mulai membuka restoran ddukboki, dan jika orang sepertimu muncul di restoranku lagi, aku akan menghajar mereka. Kau paham sekarang? Beritahu selagi aku bertanya dengan baik. kau tahu siapa aku kan? Aku….. kelinci Gila dari Gangnam, Han Jung Woo. Ayo cepat!” Jung Woo langsung melempar kertas-kertas pertanyaan pada penjahat iitu.

Jung Woo pulang ke rumah dengan membawa ayam goreng. Melihat keadaan rumah yang gelap, jung Woo langsung memanggil Soo Yeon dan kekasihnya (ibu soo Yeon).  Saat Jung Woo menyalakan lampu, dengan tiba-tiba Ah Reum keluar dari kamar dengan memakai gaun yang bagus dan jepit jemuran di rambutnya.

Setelah itu muncul Eun Joo bak model catwalk, dia juga menggunakan jepit jemuran. Belum selesai kebingungan Jung Woo, Ibu Soo Yeon juga keluar dari kamar dengan centilnya. Giliran berikutnya adalah Mi Ran, namun  Mi Ran malu-malu untuk keluar.

“aku tak pernah melakukan hal semacam ini.” Keluhnya dari kamar.
“kita hanya berlatih! Jika kau ingin melakukannya, lakukanlah dengan benar. Jika tidak, pergilah.” Jawab ibu dengan kesal.
“Kau tak bisa begitu padaku!” jawab Mi Ran kesal yang akhirnya keluar juga dari kamar. Mi Ran juga memakai jepit jemuran di rambutnya, sama dengan yang lain. “Jika anak kita menikah, kita akan menjadi besan.”

“Kupikir kau sudah resmi bercerai!”
“Masih belum” Jawab Mi Ran.
Ah Reum dan Eun Joo hanya bisa senyum-senyum melihat pertengkaran kedua ibu ini. Menyela pertengkaran Mi Ran dan Ibu, Jung Woo bertanya dimana Soo Yeon. Soo Yeon pun akhirnya keluar dari kamar dengan melambai-lambaikan tangannya seperti gaya seorang model. Soo Yeon mengatakan kalau dia berniat menjadi penutupnya. Namun gaya modeling Soo Yeon hilang, saat dia melihat apa yang Jung Woo bawa.
“ayam” ucap Soo Yeon senang.
Jung Woo mengatakan kalau dia tak mengira Ah Reum dan Mi Ran akan datang. Dengan ayam yang dia bawa, dia mengajak semuanya untuk duduk dan makan bersama. Saat Jung Woo memanggil ibu dengan sebutan kekasih, Mi Ran bertanya apa itu kekasih. Ah Reum memberi tahu kalau Jung Woo dan ibu memang selalu seperti itu.

Ibu dengan senang mengatakan kalau baju yang mereka semua pakai adalah buatan Soo Yeon. Mi Ran pun berterima kasih juga pada Soo Yeon, karena Soo Yeon sudah mau mengundangnya, mendengar itu ibu langsung meralat, kalau ibulah yang mengundang Mi Ran, bukan Soo Yeon.

“Hei, apa kalian tahu hari ini, adalah hari apa?” ucap Jung Woo menghentikan pembicaraan ibu dan Mi Ran. Kemudian Jung Woo meminta Soo Yeon mengulurkan tangannya dan menutup matanya. Penasaran, Soo Yeon pun mematuhinya. Setelah Soo Yeon menutup mata, Jung Woo mengambil sesuatu di dalam saku jasnya, dan langsung dia letakkan ke tangan Soo Yeon.

Eun Joo menebak kalau Jung Woo sedang melamar Soo Yeon, sedangkan Ah Reum menebak kalau Jung Woo memberikan Soo yeon cincin.  Tidak menjawab, Jung Woo menyuruh Soo Yeon membuka matanya.

Betapa terkejutnya Soo Yeon saat mengetahui kalau benda yang diberikan Jung Woo adalah KTP untuknya atas nama Lee Soo Yeon.  Semua orang senang pada apa yang diberikan Jung Woo.

“Karena kita sudah menemukan Soo Yeon, kita harus mengembalikan namanya juga,” Soo Yeon masih terus memandangi KTP barunya dengan haru. Melihat Soo Yeon yang akan menangis, Jung Woo mengatakan kalau di rumah ini, tidak ada yang boleh menangis, kalau ada yang menangis maka dia akan mengusirnya.

Soo Yeon lalu tersenyum, dan langsung mengajak Eun Joo pergi ke makam detektif Kim dan membawa KTP nya. Eun Joo mengiyakan.

Jung Woo mengumumkan kalau hari itu adalah hari ulang tahunnya, dan mengajak semuanya makan ayam goreng yang dia bawa. Namun ibu langsung meralatnya, diapun langsungmengulangi kata-kata yang diucapkan JungWoo.
Sementara yang lain sedang asik makan ayam goreng, Soo Yeon dengan berbisik-bisik mengucapkan “Terima kasih,” pada Jung Woo. Dasar Jung Woo, dengan nakalnya dia meminta Soo Yeon memberi imbalan, Jung Woo memunyung-munyungkan mulutnya pertanda kalau dia meminta cium.
Tentu saja Soo Yeon, tidak memberikannya, tepat pada saat itu Ibu, Mi Ran, Ah Reum dan Eun Joo melihat ke arahnya, mereka tahu apa maksud Jung Woo, jadi mereka hanya bisa tertawa melihat tingkah Jung Woo. Mereka lalu melanjutkan untuk makan ayam bersama.

Jung Woo pergi ke penjara untuk bertemu ayahnya, Jung Woo masih merasa senang bisa bertemu dengan ayahnya.
Jung Woo mengatakan kalau dia sudah sembuh dari luka tembaknya, tapi setiap kali dia melihat bekas luka itu, Jung Woo masih merasa sakit. Jung Woo mengakui kalau semua itu membuat dia merasa sulit untuk datang bertemu dengan ayahnya.

“Tapi setidaknya kita masih punya kesempatan,” kata Jung Woo, Jung Woo juga meminta ayahnya untuk meng-kontak dirinya saat ayahnya keluar dari penjara. Jung Woo  akan menunggu sampai saat itu tiba.
Han Tae Joon  tidak mengucapkan sepatah kata pun pada Jung Woo dan dia langsung berbalik  untuk kembali ke selnya.
Namun Tae Joon berhenti sejenak  sebelum dia pergi dan Jung Woo masih berdiri disana, ingin mendengar apa yang ayahnya ingin katakan.
Tae Joon  berbalik, masih dengan ekspresi khasnya jutek. Ia  menggeram kalau  Jung Woo gila.
Masih merasa kecewa  dan menyesal.
aku masih akan menunggu .. Ayah.” Ucap Jung Woo pelan saat melihat ayahnya pergi meninggalkannya.
Beralih ke sebuah ruangan yang banyak terdapat gambar-gambar anak kecil, dan ternyata itu adalah kamar Hyung Joon. Hyung Joon sedang duduk di kursi rodanya menatap keluar jendela.
Terdengar suara  mengatakan, “dia mengatakan banyak hal, tapi bukan seperti orang terpelajara. Dia tak boleh tiinggal disini selamanya, dia harus dipindahkan ke dalam penjara. Karena dia dihukum seumur hidup
Hyung Joon mengangkat tangannya dan seperti menangkap sesuatu, sama seperti yang pernah Hyun Joo lakukan.
Jung Woo dan Soo Yeon datang mengunjungi Hyung Joon.  Perlahan-lahan Hyung Joon melihat mereka.
Soo Yeon menyapanya  dan Hyung Jun hanya  tersenyum ramah, tapi sepertinya Hyung Joon tidak mengenal Soo Yeon dan Jung Woo lagi. Jung Woo pun merangkul pundak Soo Yeon, untuk menenangkannya, karena Soo Yeon seperti akan menangis melihat kondisi Hyung Joon yang seperti itu.
Soo Yeon kemudian menunjukkan pada Hyung Joon  kartu identitas nya. Hyung Jun terus melihat KTP Soo Yeon, Soo Yeon pun memperkenalkan dirinya. Hyung Joon hanya menelusuri nama Soo Yeon tanpa bereaksi sedikitpun.
Jung Woo lalu menunjukkan daun pada Hyung Joon yang sudah dia bawa, “sekarang  sudah musim dingin lagi.”
Kali ini Hyung Joon merespon dan  mengambil daun dari tangan Jung Woo. Ia pun tersenyum pada Jung Woo.
“kurasa dia suka.” Ucap Jung Woo
Saat Hyung Joon sedang asik bermain dengan daun, Soo Yeon menempatkan tangannya di depan Hyung Joon dan melakukan gerakan menghapus kenangan buruk.

Hyung Joon melihatnya gerakan itu, dan kemudian dia mendongak melihat Soo Yeon.

 “Sekarang kau hanya perlu membuat kenangan indah.”. ucap Soo Yeon.
Masih tak merespon, HyungJoon kembali memperhatikan daun miliknya.
“Kurasa dia benar-benar menyukainya” ucap Soo Yeon.
(ooooh…. rasanya…. pengen meluuk Hyung Joon, liat dia kayak gitu… huuuft)
Soo Yeon dan Jung Woo keluar dari  pusat rehabilitasi ketika mereka berdua melihat salju turun. Mereka ingat pada janji yang mereka buat saat salju pertama turun, langsung  melupakan semua hal yang terjadi, mereka dengan gembira buru-buru pergi ke  suatu tempat.
Hyung Joon yang duduk di dekat jendela  melihat Soo Yeon dan Jung Woo yang pergi bersama. Hyung Joon masih membawa kalung dari ibunya.
Kemudian dengan hati-hati Hyung Joon mengangkat tangannya dan melakukan gerakan seperti memegang sesuatu.
~ Kilas balik ~
Saat Hyung Joon memegang pundak Soo Yeon, yang kemudian disambut Soo Yeon yang juga memegang tangan Hyung Joon. Dan kenangan-kenangan yang lain, dimana Soo Yeon dan Hyung Joon yang selalu berpegagan.
Kembali lagi pada Hyung Joon yang terus melihat  tangannya.
Teringat kembali pada saat Hyung Joon yang selalu ada untuk Soo Yeon, disaat Soo Yeon histeris. Mulai disaat mereka berada di tempat persembunyian, dan saat Soo Yeon histeris saat dipertemukan lagi dengan Sang Deuk.
Hyung Joon berusaha melakukan gerakan menghapus kenangan buruk. Dan setelah berhasil, dia tersenyum memandangi jari-jarinya.
Sambil memegang buket bunga, Jung Woo dan Soo Yeon masuk kedalam  sebuah gereja yang kosong.
Jung Woo dengan pawainya berjalan  menyusuri lorong, tetapi ketika ia menyadari kalau ia masih memegang buket bunga, ia pun langsung mundur untuk menyerahkan bunga itu pada  Soo Yeon.
Sekali lagi Jung Woo berjalan menyusuri lorong. sementara itu, Soo Yeon mengambil  sesuatu dari dalam tasnya.
Jung Woo berbalik dan melihat Soo Yeon masih berdiri di belakangnya, memegang buket bunga.
Jung Woo melambaikan tangannya untuk menyuruh Soo Yeon cepat berjalan dan datang ke sampingnya.
Soo Yeon tersenyum dan sebelum dia berjalan, dia mejepitkan  pita putih ke rambutnya.
Dalam hati Soo Yeon berkata “Jung Woo, kau tahu berapa lama aku sudah menunggu saat ini? Terima kasih untuk selalu tinggal di tempat yang sama.”
Bak seorang pengantin sungguhan Soo Yeon berjalan menuju Jung Woo.
Dalam hati Jung Woo berkata, “untuk mencapai tempat ini, sulit kan? Dan sekarang yang harus kau lakukan hanya berjalan 13 langkah lagi.  Satu … dua … tiga … empat … lima … enam …
Flasback saat – saat bersama mereka..
 “Ketika angin bertiup, yang harus kau lakukan adalah menahannya, saat hujan, yang harus kita lakukan adalah saling berbagi payung. Hari dimana salju pertama turun… kita bisa bertemu seperti ini..  kau ingat, di depan rumahmu ketika kita masih remaja, kita saling menunjukkan bekas luka kita. Sudah cukup. Jika kita menggunakan kekuatan cinta maka kita bisa menanggung segala sesuatunya bersama-sama. Mari kita hidup bersama seperti itu.”
Jung Woo meraih tangan Soo Yeon.
“cantiknya”
“tampannya…”
Mereka saling memuji satu sama lain. Jung Woo memakaikan cincin ke jari Soo yeon, begitu juga Soo Yeon yang memasangkan cincin di jari Jung Woo. Mereka terlihat begitu bahagia.  Jung Woo kemudian mencium kening Soo Yeon.
Setelah mereka selesai melakukan ‘upacara pernikahan,’ mereka mengambil gambar mereka dan mengirimkannya pada orang-orang terdekat mereka. 
Di rumah, Eun Joo terkejut mendapat kiriman foto dari Jung Woo, dia mengeluh karena Jung Woo dan Soo Yeon  melakukannya tanpa keluarga, sementara itu ibu Soo Yeon mulai tertawa gembira, dia begitu senang karena kedua anaknya akhirnya menikah juga.
Bukan hanya ibu dan Eun Joo yang mendapat kiriman, Mi Ran dan Ah Reum juga mendapatkannya. Mi Ran berkomentar, kalau apa yang dilakukan JungWoo dan Soo Yeon, bukanlah pernikahan. Diapun mengusulkan idenya untuk  mengatur pernikahan yang sebenarnya untuk  Jung Woo dan Soo Yeon, tapi Ah Reum mengatakan kalau itulah keinginan Jung Woo dan Soo Yeon yang ingin mengucap janji di hari pertama turun salju.
Ah Reum mengatakan bagaimana kalau ayahnya tahu tentang pernikahan Jung Woo. Mi Ran dengan cepat mengatakan kalau Tae joon tidak perlu tahu.
Tak ketinggalan Joo juga mendapat kiriman foto dari Jung Woo. Saat pertama kali melihatnya, Jung Woo tersenyum senang, namu dalam hitunga detik, senyum Joo hilang dan dia langsung berteriak kesakitan, dia mengeluh perutnya sakit.
Detektif lainnya yang berada disana langsung mendekati Joo, dan mengambil ponsel Joo. Mereka langsung tersenyum senang saat melihat foto Jung Woo yang sudah menikah dengan Soo Yeon. Tapi saat Ketua Tim ingin melihatnya juga, Joo langsung merebut ponselnya dan pergi. Detektif Ahn dan detektif Park langsung mengejar Joo, sedangkan Ketua Tim yang awalnya tak mau perduli, tak bisa menghilangkan rasa penasarannya, dia juga mengejar Joo untuk melihat foto Jung Woo.
Ibu Soo Yeon menelpon  Jung Woo, dan mengatakan kalau foto-fotonya begitu indah.
Jung Woo berencana untuk menggelar pernikahan yang sebenarnya  dengan gaun pengantin dan tuksedo.
“Dengan Ibu,” tambah Jung Woo, dan itu mengejutkan ibu. “Ibu, terima kasih.”
Ibu Soo Yeon mulai menangis ketika Jung Woo terus berterima kasih kepadanya.
“Terima kasih karena sudah  membesarkanku dan sudah menjadi kekasihku, dan juga sudah melahirkan seorang putri yang cantik.”
Dengan penuh  air mata bahagia, ibu Soo Yeon memanggil Woo Jung  sebagai menantunya, “terima kasih.”
Jung Woo dengan tersenyum mengatakan, “aku menyayangimu..”
Ibu menjawab, kalau dia juga menyayangi Jung Woo.
Setelah menutup telepon, Jung Woo kembali ke altar, Soo Yeon dan Jung Woo saling melakukan gerakan menghapus kenangan buruk satu sama lain, untuk menghapus kenangan buruk masing-masing dan  membuat kenangan baru sebagai suami istri.
Kilas balik dari masa lalu mereka, dimana Jung Woo remaja sedang berteduh dibawah perosotan. Dia sedang menunggu hujan reda, tak lama kemudia Soo Yeon remaja datang dan memberikan payung satu-satunya milik dia kepada Jung Woo.
“Tidak apa-apa. Aku tidak takut basah, karena aku sudah basah kuyup. “
Jung Woo lalu berjanji untuk mengembalikan payung keesokan harinya. Kemudian pada perjalanan pulang, Jung Woo akhirnya harus kebasahan juga, karena payung milik Soo Yeon rusak. Mengingat kata-kata Soo Yeon, Jung Woo pun akhirnya setuju kalau dia sekarang tidak takut basah, karena dia sudah kebasahan.
Meski begitu, ia menempatkan payung rusak di atas kepalanya dan terus  berjalan pulang.
Keesokan harinya, Soo Yeon memainkan genangan air, dia mencoba untuk menebak apakah Jung Woo akan datang atau tidak. Dia juga  menyanyikan lagu  Magic Castle, dia menunggu kedatangan Jung Woo.
Berbeda dengan apa yang terjadi pada episode 1, kali ini Jung Woo datang.

Jung Woo datang dengan membawa payung Soo Yeon,  “Sudah kubilang aku akan datang. Aku sudah berjanji. “
Soo Yeon gembira dan mengambil payung, Jung Woo kemudian mengatakan pada Soo Yeon kalau dia mengajak seseorang.
“Siapa?” tanya Soo Yeon.
“paman kecilku.” Jung Woo begitu gembira mengetahui dia mempunya seorang paman yang umurnya dibawah dirinya.

“Kau pembohong.” Tiba-tiba terdengar suara anak kecil yang ternyata itu adalah Hyung Joon kecil.
Soo Yeon dan Jung Woo melihat kearah Hyung Joon.

Hyung Joon  berkomentar kalau Soo Yeon tidak cantik,  “Kau bilang pacarmu benar-benar cantik.”
Jung Woo terkejut karena hyung Joon bisa-bisa mengatakan semua rahasianya pada Soo Yeon.  Soo Yeon yang mendengar itu langsung bertanya-tanya apakah dia benar-benar cantik.
“Apakah mata ku? Hidung? Mulut? “
Namun Jung Woo dengan cepat menyangkal, ia menyebut kalau wajah Soo Yeon seperti gula putih, tampak seperti terbuta dari adonan. Soo Yeon kesal dengan jawaban Jung Woo, dan dia bersiapp-siap memukul Jung Woo denga payungnya.
Jung Woo berlari dan Soo Yeon mengejarnya. Hyung Joon mengambil payung Soo Yeon,  dan melemparkannya ke Jung Woo, mereka tidak mengizinkan Soo Yeon mendapatkan payungnya
apa yang akan terjadi jika kami bertemu seperti ini? “ terdengar suara Jung Woo dewasa.

Sedang asik bermain, tiba-tiba salju turun dan membuat mereka berhenti.

Mereka bertiga mendongak melihat indahnya salju yang baru saja turun.

Dia  menyukaiku.
Dia tidak menyukaiku.
Dia  menyukaiku.
Dia tidak menyuakiku
Dia menyukaiku…

“Cantiknya…” ucap Jung Woo saat melihat Soo Yeon. Soo Yeon yang mendengarnya tersenyum. Namun Hyung Joon langsungmeralatnya, kalau Soo Yeon sama sekali tidak cantik. Soo Yeon terlihat kesal pada Hyung Joon.  Hyung Joon dan jung Woo pun melanjutkan melempar-lempar payung Soo Yeon, agar Soo Yeon tidak bisa mendapatkannya.
apa yang akan kau lakukan ketika salju pertama turun?” tanya Soo Yeon remaja.
aku akan menemuimu. Aku hanya punya seorang teman, Lee Soo Yeon” jawab Jung Woo remaja.
bagaimana jika kita bertemu seperti ini?” tanya Soo Yeon dewasa.
kurasa kita akan tetap saling mencintai. Walau kita bertemu seperti ini, kita akan tetap saling mencintai.” Jawab Jung Woo dewasa.
Kembali ke gereja, dimana Jung Woo meraih tangan Soo Yeon. Sambil berpegangan tangan Soo Yeon dan Jung Woo berjalan keluar gereja.
Jika waktu itu kau tak datang ke taman bermain pagi-pagi sekali, apa mungkin kita takkan pernah bertemu?” Tanya Soo Yeon dewasa.
Kita sudah pernah bertemu sebelumnya. Yang terpenting, aku senang waktu itu turun hujan
Ibuku menendang saat sia tertidur. Itu sebabnya aku menemukan payungnya,” jawab Soo Yeon.
Tentu saja, begitulah kekasihku. Orang yang membuat hubungan kita menjadi mungkin
~ The End ~
Bagikan ke teman: